12 Maret 2009
"Seperti waktu Pilkada DKI, (ada) 120 ribu kader kita. Ketika kita kumpulkan Rp50 ribu, terkumpul Rp5 miliar lebih. Bagi PKS, kantong kami adalah kas kami sendiri," jelasnya.
JAKARTA - Dana kampanye awal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) sudah mencapai Rp6 miliar. Jumlah ini tercapai disebabkan gerakan lima ribu rupiah atau galibu yang dicanangkan Dewan Pimpinan Pusat PKS. Presiden PKS Tifatul Sembiring mengungkapkan, PKS memiliki 823 ribu kader di seluruh Indonesia.
"Kita serukan (galibu) dan ini bukan puncaknya," kata Tifatul usai meengikuti Zikir Akbar dalam acara Maulid Nabi di Masjid Istiqlal, Jakarta, Senin (9/3/20009). Tifatul melanjutkan, pada puncaknya nanti PKS akan menyerukan gerakan lima puluh ribu rupiah.
"Seperti waktu Pilkada DKI, (ada) 120 ribu kader kita. Ketika kita kumpulkan Rp50 ribu, terkumpul Rp5 miliar lebih. Bagi PKS, kantong kami adalah kas kami sendiri," jelasnya.
Namun meskipun mengerahkan kantong kader-kadernya, PKS tetap membuka pintu bagi masyarakat yang akan menyalurkan sumbangannya. Mengenai jumlah Rp6 miliar, menurut Tifatul, itu hanyalah yang terkumpul di rekening partai. Namun, yang berjalan di kalangan kader dia memperkirakan bisa mencapai Rp100 miliar.
"Itu kan Cuma dua rekening BCA dan Mandiri. Yang nyumbang langsung atau kirim barang langsung kita kan tidak tahu," pungkasnya. Baca Selengkapnya..
06 Maret 2009
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Mengundang segenap saksi PKS Karangasem - Solo pada :
Hari, tanggal : Senin, 9 Maret 2009
Waktu : 19.30 WIB
Tempat : Bpk. Budhi Hartanto, ST. (selatan puskesmas karangasem)
Agenda : Silaturrohim dan pembekalan dasar saksi TPS
( pembagian kaos saksi )
Demikian undangan kami. Atas perhatiannya diucapkan terima kasih.
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakaatuh
Surakarta, 5 Maret 2009
Ketua DPRa Karangasem
Muhammad Yusuf Baca Selengkapnya..
TABAYYUN
Muhammad Nur Hayid - detikPemilu
Jakarta - Ketua DPP PKS bidang perencanaan Mahfudz Siddiq menilai berita kasus pemerkosaan di kecamatan Cantigi, Indramayu yang diisukan dilakukan ketua DPC PKS hanyalah isapan jempol belaka. Menurutnya, berita ini sebagai upaya politisasi karena DPD PKS Indramayu sebelumnya melaporkan Bupati Indramayu, Yance terkait pelanggaran pidana pemilu.
"Berita itu hanyalah isapan jempol belaka dan dipolitisasi pihak tertentu untuk mendeskriditkan PKS. Bahkan sekarang beredar selebaran foto copy berita kasus tersebut dan di tempel di tempat-tempat umum yang dijaga oleh ormas pemuda tertentu yang berafiliasi ke salah satu parpol besar di Indramayu," kata Mahfudz kepada detikcom Jumat (6/3/2009).
Menurut penasehat DPD PKS indramayu ini, kejadian yang sebenarnya terjadi adalah adanya sejumlah pemuda-pemudi di daerah tersebut yang menggelar pesta miras dan melakukan seks bebas. Dari pesta itu, salah seorang pelakunya adalah Royana, simpatisan PKS yang baru bergabung sebulan ini.
"Jadi Roy bukan kader, bukan ketua DPC dan bukan pula caleg PKS. Masyarakat di sekitar Cantigi menyangsikan terjadinya aksi pemerkosaan. Karena pesta miras dan seks bebas biasa terjadi di daerah itu. Bahkan Indramayu memang dikenal dengan budaya semacam ini," papar Mahfudz.
Ketua FPKS ini menduga kasus ini sebagai balasan dari orang yang kecewa dengan langkah DPD PKS yang melaporkan kasus pelanggaran kampanye pemilu yang melibatkan Bupati Indramayu. Bahkan dalam kasus itu Panwas Kabupaten Indramayu sudah menyampaikan teguran kepada Bupati asal Golkar itu.
"Dugaan politisasi kasus ini karena beberapa waktu sebelumnya DPD PKS Indramayu melaporkan Bupati Indramayu, Yance, ke Panwaslu karena diduga melakukan pelanggaran pidana pemilu. Panwas Kab Indramayu sudah keluarkan surat teguran kepada Bupati asal Golkar," pungkas Mahfudz Siddiq.
( yid / mad ) Baca Selengkapnya..
01 Desember 2008
Saya baru sadar, baru ngeh ternyata, Soekarno pernah mengatakan "Aku adalah budak bagi rakyatku sendiri", KH Ahmad Dahlan pernah mengingatkan bahwa Pemimpin itu sedikit bicara tapi banyak bekerja,
PK-Sejahtera Online: PKS diserang dari berbagai golongan terkait dengan iklannya yang dikatakan ‘menjual’ nama para pahlawan. Beberapa di antaranya menuduh PKS telah mempolitisir para pahlawan untuk kemenangan sesaat.
Benarkah tuduhan itu? Jawabannya adalah tergantung siapa yang ditanya. Bagi para elit yang kecolongan mungkin iya, tapi bagi masyarakat bawah mungkin tidak. Karena mereka bisa mengambil manfaat dan ilmu dari iklan itu.
Bagi saya, saya tidak peduli para pahlawan diduga dipolitisir atau tidak, yang jelas bahwa iklan itu bermanfaat dan mengandung ilmu sehingga kita makin cinta pada para pahlawan setelah memahami pemikiran mereka.
Para pahlawan sekarang ini jarang sekali disinggung, mereka dilupakan apalagi diikuti dan dilanjutkan pemikirannya. Saya kaget dan termenung melihat iklan PKS di tivi. Saya baru tahu bahwa pemikiran para pahlawan begitu luhur dan layak ditiru.
Selama ini di sekolah kita menghafal para pahlawan sekadar dari mana asalnya, berjuang tahun berapa, dan seterusnya sekadar untuk ujian, namun tidak kepada pemikirannya yang luhur dan bermanfaat.
Oleh karenanya saya baru sadar, baru ngeh ternyata, Soekarno pernah mengatakan "Aku adalah budak bagi rakyatku sendiri", KH Ahmad Dahlan pernah mengingatkan bahwa Pemimpin itu sedikit bicara tapi banyak bekerja, KH Hasyim Asyari pernah menasehatkan bahwa pemimpin jangan hanya memberikan jargon kosong tanpa bukti nyata, dan M Natsir mengimbau Pemimpin harus jujur mau menerima kritik dan saran.
Selama ini hanya gambar mereka yang dipajang sebagai hiasan yang lama kelamaan makin tua dan berdebu.
Saya salut dengan PKS. Kalau PKS tidak mengiklankan para pahlawan itu, mungkin sampai saat ini saya tidak tahu pemikiran besar mereka, pemikiran yang kini sangat diperlukan untuk melahirkan pemimpin Indonesia yang lebih baik.
Beberapa kelompok yang mengaku dilahirkan dari para pahlawan itu tidak pernah memberikan apa cita-cita besar pendirinya, tidak ada sharing pemikiran besar para pahlawan yang telah melahirkannya.
Meski orang tua dan Mbah saya adalah orang NU, namun saya tidak menyalahkan mereka ketika mereka tidak menjelaskan tentang pemikiran besar KH Hasyim Asyari, karena mereka mungkin juga tidak mengetahui karena tidak pernah sekolah. Sekarang saya makin cinta kepadamu para pahlawan.
Oleh karena itu, saya berterima kasih pada PKS, partai cerdas. Berkat Anda, kini aku tahu pemikiran besar para pahlawan bangsa.
Sayangnya di iklan kedua Anda, hanya gambar-gambarnya saja yang ditonjolkan. Untuk seterusnya, buktikan bahwa Anda memang konsisten mendidik dan menjadi guru masyarakat dan mungkin juga guru bagi partai lainnya.
Zamkofa Anwar, zamkofa@gmail.com
/>
http://inilah.com/berita/citizen-journalism/2008/11/15/61617/sadar-berkat-iklan-pks/
Pengirim: Ningsih Update: 15/11/2008 Oleh: Ningsih Baca Selengkapnya..
26 November 2008
Tulisan ini ditujukan kepada pkswatch.blogspot.com, yang sedang naik daun, dan menjadi ajang adu opini seputar PKS.
Saat pertama kali membuka blog ini, dengan referal dari detik.com, maka ada sesuatu yang terkembang di wajah, dialah : senyum.
Ya, saya senyum-senyum saat mengeksplor blog ini.
Ya, senyum terkembang karena :
1. pada akhirnya, ada juga someone yang mau mengkompile input, nasehat, saran, kritik publik/ dari kawula untuk PKS, dengan lebih sistematis dan mudah diakses.
Sebetulnya, alur kritik atau lebih tepatnya 'nasehat' di tubuh PKS, khususnya nasehat dari 'bawah' ke 'atas' telah berlangsung lama, tapi bersifat sporadis, reaksioner, sektoral, dan belum sistematis, atau belum bersudut pandang integral/menyeluruh, dan tentu saja tidak mudah diakses.
Jadi, sebelum kita melongok konten blog ini lebih dalam. Kehadiran blog ini sebetulnya adalah sebuah keniscayaan, seiring dengan bertumbuh kembangnya PKS di ranah publik.
Blog, atau bahkan nanti mungkin ada yang berupa portal, adalah hal yang tak dapat dihindari dalam proses pendewasaan partai berkarakter intelek seperti PKS.
Monitoring, Watching , dan sejenisnya, membawa dampak positif pada kinerja, semangat dan kesiapsiagaan.
Analoginya, kita semangat berbuat baik, karena merasa Allah me-watch kita. Semakin kita meyakini kekuatan daya watch-Nya, maka dijamin, kita akan semakin tidak berani untuk berbuat macam-macam (baca : maksiat)
2. beragamnya komentar para pengunjung. Ini mengindikasikan bahwa, blog ini dipantau oleh pengunjung dengan beragam level kepemahaman. Dari yang telah lama bergelut hingga yang baru kenal PKS kemaren sore.
Ini positif, karena pengunjung yang --kita sebut saja-- 'senior', akan berusaha untuk mendewasakan paradigma atau cara pandang 'the new comer'. Sementara, the new comer, dengan segala kebijaksanaan yang dimilikinya, berusaha memilah-milah setiap input yang masuk tentang PKS.
Jika dia masuk ke blog ini dengan niat baik, maka niscaya dia akan mudah merasakan betapa hangatnya atmosfer diskusi kader-kader PKS.
Tapi jika memang sudah punya niat buruk sejak awal, maka dia tidak akan mendapatkan hikmah sedikit pun dari blog ini, selain kepuasan emosi semata, karena sudah mengeluarkan uneg-uneg, cemoohan, justifikasi, atau yang sejenis dengan itu.
Sehingga, kekhawatiran blog ini melakukan penghancuran karekater terhadap PKS atau tokoh-tokohnya, tentu saja harus ada adan tidak perlu risau dengannya. Kekhawatiran itu justru dibutuhkan, karena dengan demikian, pengunjung yang berkompeten akan termotivasi untuk selalu memantau blog ini, dan pada gilirannya berusaha untuk memberikan perspektiflain agar berimbang.
Tapi jangan salah, saya bukan pendukung buta blog ini.
Saya menyarankan, hindarkan ketakjuban setelah melihat blog ini.
ketakjuban justru bersifat kontraproduktif terhadap kekritisan.
Seperti pesan yang hendak di sampaikan blog ini : jangan takjub sama PKS !, maka pesan yang sama juga berhak disandangnya : jangan takjub sama PKS Watch !
Ketakjuban akan menyilaukan mata dan mengurungkan niat hati untuk memberi nasehat/kritik.
Karena itu, Tulisan ini bermaksud untuk menyodorkan prinsip global sebelum melongok artikel by artikel, kritik by kritik, nasehat by nasehat, dalam blog ini :
1. Ingatlah selalu, bahwa sifat dasar pengkritik yang tidak berhati-hati adalah, tidak mampu melihat gajah dipelupuk mata dan lihai dalam mendefinisikan semut di ujung lautan.
Jika tak berhati-hati, kelak akan tiba waktunya, saat si semut sudah berubah menjadi gajah, (sudah tidak dapat dilihat kesalahannya, dan menjadi 'besar'), gantian si gajah di mata menjadi semut (dikritisi oleh banyak orang dan 'kerdil').
Ini bukan ancaman, tapi sekedar nasehat, bahwa tidak melulu kekurangan atau kesalahan orang lain yang kita ungkap dan kritisi, walaupun dengan tujuan baik, tetapi ke-ksatria-an kita dalam mengakui kesalahan kita sendiri. Khususnya kesalahan dalam mengambil cara pandang, kesalahan dalam mem-persepsi/asumsi dan kesalahan dalam menyusun logika, ataupun sekedar kesalahan teknis, soal memili kata yang thoyib dalam melontarkan kritik.
2. Ingatlah selalu, bahwa setiap kritikan sejatinya juga tertuju pada diri si pengkritik.
Saat kita mengkritik kinerja aleg pKS, atau kinerja kader-kadernya, maka pertanyaan yang sama juga tertuju pada kita : bagaimana dengan kinerja kita sendiri, di dunia/profesi yang sedang sedang kita geluti.
Dalam konteks dakwah, pertanyaannya menjadi : apa yang sudah kau sumbangkan untuk dakwah/ untuk Islam selama umur hidupmu di dunia ini ?
Yang ingin kita hindari adalah : Saat para kader kelelahan menjalankan tugas dakwahnya, kita kelelahan karena kebanyakan mengkritisi orang, dan lalai dengan amanah dakwah yang kita emban.
Selalu terbuka kemungkinan, karena minimnya informasi yang masuk, kita secara tidak sadar telah men-judge seseorang dengan rapor negatif, padahal saat informasi yang sebenarnya terkuak, seseorang itu berhak atas sebuah apresiatif positif.
Sumbangsih/kontribusi dakwah dari seseorang yang kita kritisi kadang ternyata jauh melebihi kontribusi dari apa yang telah kita lakukan.
Karena itu, dalam memberi kritik, secukupnya saja tak perlu over dosis. Sama seperti kita mencintai dan membenci, secukupnya saja. Agar kita siap secara mental, saat yang kita cintai berubah menjadi membenci atau yang kita benci justru menjadi sesuatu yang harus kita cintai.
3. Ingatlah selalu, bahwa dakwah disusun dengan pondasi jamaah (keluarga, kerja sama, ukhuwah, dsb) bukan infirodiyah (sendiri).
Rasul pun sempat mengakui bahwa Islam sangat bersyukur dengan kehadiran Abu Bakar dan sahabat-sahabat lainnya. Peran ke-jamaah-an mereka adalah tidak terbantahkan.
Dan banyak hikmah lain, yang intinya, jamaah dikedepankan daripada ke-individuan.
Artinya pula, saat terjadi kontradiksi antara jamaah dengan individu, dalam hal ini individu harus bersikap arif.
Kita mungkin pernah bersikeras dan bersikukuh agar jamaah mengikuti pendapat kita, karena kita meyakini pendapat kita-lah yang benar. Tetapi, jika jamaah atau hasil syuro memutuskan tak demikian, maka mundur untuk menjadi infirodi (sendiri) bukanlah jalan keluar terbaiknya.
Karena, saat jamaah telah mengkoreksi kesalahannya, kita sudah tak berada di dalamnya. Koreksi, dalam jamaah adalah sesuatu yang dimungkinkan. Syuro, yang menghasilkan keputusan yang bersumber dari pendapat kolektif, sangat memungkinkan untuk mengidentifikasi kesalahan, lalu mengubahnya dengan yang lebih mendekati kebenaran.
Jadi, selama masih berkutat di seputar ijtihadi, usaha untuk mempertahankan persatuan lebih utama daripada usaha untuk membuktikan kebenaran pendapat individu, yang berakibat pada perpecahan.
Umat ini, lebih butuh persatuan. Karena perpecahan telah terbukti tidak memberi kontribusi positif apapun terhadap Islam, selain kepuasan individu.
Lagi, kesolehan sosial lebih mulia dimata Allah ketimbang kesolehan individu, walaupun sikap terbaik adalah tidak mendikotominya. Rasul lebih suka umatnya bekerja, membina umat, daripada mereka yang mengejar 'surga' hanya dengan menghabiskan waktunya di dalam masjid beribadah.
4. Kritik yang berimbang lebih mencerahkan.
Apapun bentuk kritiknya, tapi saat mulai masuk ke justifikasi personal yang cenderung miring, atau penilaian yang cenderung menurunkan kpercayaan, maka ekses negatifnya akan jauh berkurang, jika mematuhi kaidah cover both side.
Berani memuat kirik, maka berani pula memuat tanggapannya, atau mungkin pula pembelaannya, atau mungkin pula klarifikasi, sebagai penghormatan terhadap prinsip tabayun.
Cara ini, mungkin bisa dilakukan dengan menghubungi, mencari tahu, interview, sebelum tulisan di posting. Mungkin mirip wartawan, tapi ini adalah konsekuensi blogger yang mempublikasi tulisan kritik yang diakses oleh banyak orang.
Blogger, tak dapat mengandalkan pengunjung, yang berharap nantinya memberi klarifikasi. Karena, klarifikasi yang bukan berasal dari obyek bahasan, walaupun benar, tapi tidak valid !
Jika, cover both side ini dilakukan, maka two thumps up ! Blog ini memang gentle. Ada pencerahan yang dilakukan. Paling tidak, tudingan penghancuran karakter tidak kental diarahkan kepada blogger.
Tapi, jika tidak dilakukan, maka pengunjung hendaknya tidak mudah menelan mentah-mentah informasi ataupun opini yang disajikan dalam blog ini, sebelum adanya klarifikasi ataupun konfirmasi yang jelas.
5. Soal inisial, anonimus, nama pena, dan alias.
Khalifah Ali pernah berpesan soal ini. Meski tidak tepat benar konteksnya, tapi bisa memberi pandangan. Khalifah Ali berpesan, janganlah melihat siapa yang mengatakan kebenaran, tapi kenalilah kebenaran, karena kebenaran itu akan mengenalkan dengan sendirinya siapa tokoh-tokoh kebenaran.
jadi, bagi saya (anda boleh tak sependapat), inisial, anonimus, nama pena, dan alias bukanlah hal prinsipil. Yang prinsip, adalah apa yang diungkapkannya/dituliskannya.
Kadang, kita menggunakan identitas yang disamarkan untuk menasehati saudara yang kita kenal agar ia mau mendengar. Kadang pula kita membuka identitas diri, karena dengan membuka identitas diri, kredibilitas nasehat/kritik lebih efektif dan efiesien.
Sebenarnya, untuk mengetahui siapa blogger ini sangatlah mudah. Dengan investigasi sederhana maka selesailah sudah. Atau anda cukup mengundangnya hadir di suatu tempat pada jam tertentu, maka identitasnya akan terbuka.
Tapi, sebaiknya, blogger ini tidak perlu membuka identitasnya. Agar, setiap komentar/tulisan yang masuk lebih obyektif, tidak ditumpangi oleh kesan-kesan subyektif, atau penyerangan yang sifatnya tendensius pribadi.
Bagi saya, seandainya blogger ini sebenarnya hanya seorang tukang becak pun, saya akan tetap menaruh respek sebagaimana sikap yang harus diberikan bagi seseorang yang memberi nasehat/kritik. Respek ini, tidak akan berganti takjub, jika seandainya si blogger adalah seorang pejabat besar. Ngga ada pengaruhnya.
Jadi, saya tidak akan buang-buang energi mencari tahu siapa pemilik blog ini. Energi yang saya buang adalah pada masalah konten nasehat/kritik.
Yang harus diperhatikan oleh blogger ini, adalah saat ada pengunjung anonimus beritikad tak baik dengan menulis komentar yang berindikasi deligitimasi terhadap kerja dakwah PKS,atau memprovokasi agar men-talak tiga PKS.
Jika ada pengunjung yang kemudian termakan provokasi ini, menjadikannya prinsip hidup : anti PKS, apalagi kemudian menyebarkan keburukan PKS semata, maka blog ini tak dapat mengelak dari tanggungjawab.
Alih-alih mengkritisi PKS, namun secara tak sadar, blog ini membuka peluang untuk usaha menggerogoti gerbong dakwah, sebagaimana yang ditegaskan PKS sebagai : Partai Dakwah (yang menurut blog ini masih kontroversi).
Ingatlah, penghancuran jauh lebih mudah daripada pembangunan.
Saya berdoa, semoga ketulusan dan kejujuran, sebagaimana yang ditulis di deskripsi blog ini, selalu menjadi dasar setiap kali blogger dan pengunjungnya menulis nasehat/kritik.
Saya juga berdoa, semoga nasehat/kritik yang terkandung di dalam blog ini memberi kontribusi positif terhadap gerakan Islam/ gerakan dakwah (khususnya PKS). Dan, kekritisan pengunjung blog ini, mampu mengeliminasi efek buruk yang semoga tak terjadi : putusnya ukhuwah, dan saling curiga diantara kader dakwah. []
Semarang, 12 Februari 2005 Baca Selengkapnya..
25 Agustus 2008
PKS Belum Tentu Usung SBY di Pemilu 2009
Partai Demokrat (PD) yang mengusung Presiden SBY boleh pasang ancang-ancang. Sebabnya, PKS yang mendukung pemerintahan SBY, belum sehati dengan figur SBY untuk Pilpres 2009."Kami belum memutuskan langkah selanjutnya di 2009 karena hal tersebut akan diputuskan dalam musyawarah majelis syuro PKS, termasuk penentuan calon presiden," kata Presiden PKS Tifatul Sembiring usai membuka Mukernas PKS di Hotel Clarion, Jl AP Pettarani, Makassar, Senin (21/7/2008) malam.
Musyawarah dewan syuro itu terdiri dari anggota majelis syuro di 33 provinsi. Musyawarah majelis syuro mempunyai kewenangan untuk menentukan kebijakan partai termasuk penentuan calon presiden 2009.
"PKS menetapkan kriteria calon presiden yang visioner, efektif dan tegas," imbuhnya.
Pada kesempatan serupa, PKS berjanji tetap menjaga citra partai yang bersih dari korupsi. PKS juga menyatakan akan langsung memecat kadernya yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
"Kami dalam posisi zero option. Kami sudah menang di 95 pilkada dari 155 pilkada. PKS tidak mau jadi bunker koruptor. Kalau ada yang terlibat, kita akan hukum duluan sebelum KPK maju," pungkas Tifatul.
Sumber: http://www.detiknews.com Baca Selengkapnya..
22 Agustus 2008
Caleg PKS Bebas Korupsi
"Insya Allah caleg PKS terbebas dari kasus korupsi," tandas Anis Matta yang juga Sekjen DPP PKS ketika ditemui INILAH.COM di Gedung KPU Pusat, Jakarta, Selasa (19/8).
Namun dari daftar caleg yang diajukan PKS terdapat beberapa nama yang diduga pernah berurusan dengan kasus-kasuh hukum. Sebut saja Fachry Hamzah yang ditengarai menerima aliran dana Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP), Andi Rahmat juga diduga terlibat aliran dana BI jilid II, serta Syumanjaya yang sempat menjadi saksi aliran dana BLBI.
Bahkan, PKS menempatkan nama-nama tersebut di nomor urut jadi. Dalam beberapa kasus lain seperti pilkada, PKS juga mengajukan nama-nama yang dianggap bermasalah. Seperti di Pilkada Jawa Tengah PKS mendukung Sukawi yang sempat berurusan dengan aparat hukum, dan di Sumsel mengajukan nama Syahrial Oesman yang diduga terlibat perjudian.
Apa yang terjadi di PKS saat ini? Anis Matta memaparkannya secara blak-blakkan. Berikut wawancara lengkapnya:
Berapa jumlah caleg yang diusung DPP PKS?
Sebanyak 573 caleg, 34% perempuan, 35% laki-laki, dan sekitar 80% berusia 30-45 tahun.
Apakah ada caleg yang berasal dari kalangan selebriti?
Tidak ada caleg dari selebriti, ada pun tidak signifikan. Karena ukuran kami adalah moralitas dan kopetensi.
Kenapa PKS tidak menerapkan suara terbanyak dalam penentuan caleg terpilih seperti partai politik lainnya?
Karena Undang-undang tidak sesuai. UU jelas menyebutkan bahwa penentuan caleg dengan nomor urut.
Artinya, penentuan caleg terpilih dengan suara terbanyak adalah melanggar UU?
Ya tidak sesuai dengan UU Pemilu. UU Pemilu kan sudah menetapkan pada akhirnya menggunakan nomor urut jika tidak mencapai 30% bilangan pembagi pemilih (BPP). Jadi persyaratan dengan penentuan suara terbanyak itu pendapat saya akan rawan konflik.
Bukankah dengan penerapan suara terbanyak akan memicu seluruh kader untuk bekerja ke partai?
PKS itu orang tidak ambisi. Jadi pencalegan itu adalah penugasan, jadi itu tidak ada konflik, sehingga bagi PKS tidak perlu menggunakan suara terbanyak. Penerapan suara terbanyak itu umumnya dipakai partai lain untuk solusi atas konflik internal partai. Karena di PKS tidak ada konflik, maka kami menggunakan nomor urut.
Bagaimana prosedural seleksi caleg PKS?
Seleksi caleg PKS telah dilakukan dua tahun lalu, melalui mekanisme pemilihan internal yang kita sebut dengan pemilihan raya internal (Pemira) dengan seleksi dilakukan dua poin yaitu seleksi moral dan seleksi kopetensi. Jadi semua caleg kami insya allah bebas korupsi.
Artinya kesalahan proses perekrutan pimpinan kepala daerah seperti di Jateng dan Sumsel dijamin tidak akan terulangi lagi di caleg DPR RI ini?
Kalau caleg ini, hampir semua dari kader, sehingga melalui proses internal. Jadi insya Allah bebas korupsi.
Jadi memang berbeda perekrutan caleg dengan perekrutan calon pimpinan kepala daerah?
Dalam perekrutan pimpinan daerah, syarat ini juga dilakukan. Termasuk Pak Sukawi sampai sekarang tidak ada masalah. Jadi sampai seseorang telah ditetapkan bersalah oleh hukum maka Anda tidak boleh menghakimi.
Apa alasan PKS mencalonkan kembali anggota DPR yang sempat kesenggol dengan kasus korupsi?
Di PKS ada seleksi moral, jadi insya Allah semua caleg PKS bebas dari korupsi.
Dari anggota DPR yang sekarang menjabat, berapa persen yang dicalonkan kembali?
Hampir semua dicalonkan kembali walaupun nomor urutnya berbeda-beda.
Termasuk beberapa nama yang disebut-sebut terlibat kasus korupsi seperti dana DKP, aliran dana BI dan BLBI?
Sampai sekarang alhamdulillah caleg PKS tidak punya kasus di KPK.
Termasuk Fachry Hamzah yang diduga terlibat dana DKP dan mendapat sanksi dari BK DPR?
Fachry tetapi kita calonkan di daerah pemilihan (Dapil) NTB.
Termasuk gosip yang menyeret nama Andi Rahmat terlibat di aliran dana BI?
Kita tidak percaya gosip, bahkan ia kami calonkan di Dapil Sulsel III.
Bagaimana penjelesan seleksi moral bagi caleg dari PKS?
Seleksi moral itu tentunya dari sisi hukum, apakah punya kasus hukum atau tidak. Untuk kasus BI, sampai sekarang kader kami tidak terlibat. Kami sudah lakukan klarifikasi empat bulan lalu dan tidak ada.
Semua masalah sudah klarifikasi, karena kami punya dewan syariah semacam dewan pengadilan internal. Termasuk Pak Syumanjaya kami calonkan kembali di Dapil Bogor.
Sumber : inilah.com Baca Selengkapnya..