Judul artikelku kali ini meminjam tulisan seorang pejuang kemerdekaan Indonesia. Ia bernama Wolter Monginsidi.
Menjelang ia dihukum tembak di depan regu tembak tentara Belanda, ia sempat menulis beberapa kalimat pesan-pesan terakhirnya yang bernada syair. Salah satu syair yang ia tulis dan kemudian menjadi kalimat yang selalu dikenang, adalah 'Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan'.
Sosok Wolter Monginsidi adalah sosok pemuda pejuang yang jantan pemberani. Hingga ia tidak mau matanya ditutup kain saat berhadapan dengan regu tembak. Ia bahkan sempat berteriak merdeka, merdeka saat delapan timah panas merobek dadanya.
Demikian sekelumit kisah patriotik seorang Wolter Monginsidi. Sengaja aku mengajakmu mengingat perjuangannya karena saat tulisan ini dibuat, ujian bagi partai dakwah PKS laksana ombak badai yang datang menghampiri silih berganti.
Ada beberapa peristiwa nyata yang aku alami, yang rasanya sedih untuk aku ceritakan tapi aku segera menemukan jawabannya. Jawabannya adalah 'Setia Hingga Akhir Dalam Keyakinan'. Berikut beberapa contohnya :
A. Di Sebuah Kantor Instansi Pemerintah.
Seorang teman bertanya padaku, " apa yang kamu udah dapatkan dari PKS, bukankah dirimu tetap saja hidup susah. Sedang yang menikmati mereka yang tidak mempedulikanmu ?, lebih baik tinggalkan PKS saja."
Aku menjawab. "Untuk PKS, aku setia hingga akhir dalam keyakinan."
B. Dalam sebuah obrolan di warung kopi.
Beberapa teman ngobrol berkata dan bertanya padaku usai membaca dan mendengar berita yang memojokkan PKS. Mereka berkata dan bertanya, " Berarti sama saja antara PKS dan partai lainnya. Lalu buat apa kita mati-matian memperjuangkannya?"
Aku menjawab, " Untuk PKS, aku setia hingga akhir dalam keyakinan."
C. Dalam sebuah obrolan di jalan dengan beberapa kawan yang aku temui, ia berkata, "Saya sibuk nggak sempat ikut-ikut acara PKS".
Aku menjawab, " Untuk PKS, aku setia hingga akhir dalam keyakinan."
Demikian beberapa contoh dari peristiwa saat loyalitas seorang kader diuji. Dengan adanya berbagai pemberitaan yang mendiskreditkan PKS, maka akan menguji loyalitas para kadernya. Sudut pandang kader dengan sudut pandang simpatisan terhadap PKS tentu berbeda.
Biarlah waktu yang akan berbicara, saat kapal PKS berlayar makin jauh melalui pasang surutnya ombak gelombang, akan terlihat siapa ? Dan mengapa ?
Karena betapa banyak orang yang kelihatannya berada di dalam kapal namun hakekatnya ia berada di luar kapal. Namun banyak pula yang terlihat berada di luar kapal sejatinya ia ada di dalam kapal.
Dirgahayu PKS . Teruskan berbhakti untuk negeri.
Sumber : http://senowidi.blogspot.com/2011/04/setia-hingga-akhir-di-dalam-keyakinan.html
Baca Selengkapnya..
19 April 2011
16 April 2011
Berani Mundur
..lewat mundurnya Arifinto, PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional. (Zaim Uchrowi)
...
Arifinto sungguh disayang Tuhan. Anggota DPR itu saya yakin seorang yang baik. Lebih baik dari rata-rata orang, lebih baik dari kebanyakan rekan legislatifnya. Tapi, sebaik-baik orang tentu punya kelemahan, tak terkecuali orang baik ini. Ia melakukan yang tak patut bagi orang sebaik dirinya, apalagi di tengah rapat Paripurna DPR—rapat yang semestinya diikuti cermat oleh semua pesertanya.
Allah SWT mengingatkannya lewat lensa kamera wartawan. Hal yang sesaat tentu memukul perasaannya juga perasaan rekan-rekan separtainya yang memosisikan diri untuk menegakkan moral. Pukulan tertelak tentu harus ditanggung keluarganya. Mereka tiba-tiba harus mendapat kerlingan aneh orangorang di sekitarnya. Tapi, seorang Arifinto tentu seorang realistis. Ia sadar dan siap memikul konsekuensi atas perbuatannya.
Tak banyak orang yang segera di ingatkan Tuhan begitu berbuat salah. Tak sedikit orang yang berbuat salah lebih parah dari dia, namun dibiarkan Tuhan. Banyak pejabat yang gemar berzina juga rajin menilap uang rakyat dengan berbagai cara, baik yang kasar maupun yang tampak beradab, tapi Allah membiarkannya. Mereka dibiarkan hanyut dalam perbuatan kotornya dan tak dipermudah jalannya untuk kembali menjadi orang baik.
Arifinto tidak seperti itu. Ia tidak pernah benar-benar kotor seperti banyak orang lain yang tampak baik dan terhormat —padahal tidak. Nuraninya relatif terjaga. Ketika menyadari telah melakukan hal yang tak patut, segera ia menginstro speksi diri. Ia memilih mengundurkan diri. Hal yang hampir tak akan pernah dilakukan siapa pun di DPR, bahkan oleh mereka yang memiliki kesalahan lebih besar.
Di dalam dunia politik kita, mundur belum biasa. Sangat berbeda dengan Jepang. Pejabat yang dinilai kurang patut, berdasarkan norma Jepang, akan segera mundur. Pejabat yang dituding bersalah oleh publik akan mundur. Mereka tidak akan mencoba membela diri, dan mereka tidak sibuk berdalih menutupi kesalahan atau kekurangannya. Buat mereka, jabatan adalah kepercayaan. Bila kepercayaan pada dirinya hilang, dia akan segera menyerahkan jabatan. Apalagi kalau jelas membuat kesalahan.
Arifinto mengingatkan kita pada nilai itu. Ia mundur dari jabatannya. Hal yang dulu juga dilakukan Bung Hatta. Kebetulan atau tidak, menurut pakar politik Indra J Piliang, keduanya orang Bukittinggi. Daerah yang di masa-masa awal Indonesia banyak melahirkan pemimpin besar. Mundur dari jabatan bahkan dilakukan oleh pemimpin yang dituding pengeritiknya sebagai otoriter, seperti Soeharto. Merasa rakyat tak membutuhkannya lagi, Soeharto mundur.
Tak gampang buat memutuskan mundur. Hanya orang yang sungguh paham dan sadar apa arti jabatan yang berani mundur. Seorang yang berani mundur tahu betul bahwa jabatan bukan tujuan, jabatan hanya sarana. Bukan sarana buat memupuk kejayaan diri sendiri, melainkan sarana untuk membangun keadaan lebih baik untuk masyarakat. Maka, jabatan harus dipikul dengan penuh martabat. Jabatan dijaga dengan kepatutan dan moralitas tinggi. Seorang yang mengincar jabatan buat kejayaan diri tidak akan pernah mau mundur. Mereka akan gunakan segala cara untuk mempertahankan jabatan.
Sebaliknya bagi orang bernurani yang tahu jabatan hanya sarana, mereka akan mundur saat telah melanggar kepatutan memikul jabatan. Mereka akan mundur ketika jabatan tak lagi efektif untuk menggapai tujuan membuat kebaikan di masyarakat. Itu yang dilakukan Hatta begitu Soekarno mulai membangun pemerintahan otoriter berlabel demokrasi terpimpin.
Arifinto membuat langkah penting bagi bangsa ini, membiasakan budaya mundur. Hal yang tentu tak lepas dari sikap partainya, PKS. Partai yang dalam beberapa waktu terakhir banyak dihujani cobaan, termasuk pada kasus ini. Namun, lewat mundurnya Arifinto, PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional.
*)sumber: Republika edisi Jumat (15/4/11) Baca Selengkapnya..
...
Arifinto sungguh disayang Tuhan. Anggota DPR itu saya yakin seorang yang baik. Lebih baik dari rata-rata orang, lebih baik dari kebanyakan rekan legislatifnya. Tapi, sebaik-baik orang tentu punya kelemahan, tak terkecuali orang baik ini. Ia melakukan yang tak patut bagi orang sebaik dirinya, apalagi di tengah rapat Paripurna DPR—rapat yang semestinya diikuti cermat oleh semua pesertanya.
Allah SWT mengingatkannya lewat lensa kamera wartawan. Hal yang sesaat tentu memukul perasaannya juga perasaan rekan-rekan separtainya yang memosisikan diri untuk menegakkan moral. Pukulan tertelak tentu harus ditanggung keluarganya. Mereka tiba-tiba harus mendapat kerlingan aneh orangorang di sekitarnya. Tapi, seorang Arifinto tentu seorang realistis. Ia sadar dan siap memikul konsekuensi atas perbuatannya.
Tak banyak orang yang segera di ingatkan Tuhan begitu berbuat salah. Tak sedikit orang yang berbuat salah lebih parah dari dia, namun dibiarkan Tuhan. Banyak pejabat yang gemar berzina juga rajin menilap uang rakyat dengan berbagai cara, baik yang kasar maupun yang tampak beradab, tapi Allah membiarkannya. Mereka dibiarkan hanyut dalam perbuatan kotornya dan tak dipermudah jalannya untuk kembali menjadi orang baik.
Arifinto tidak seperti itu. Ia tidak pernah benar-benar kotor seperti banyak orang lain yang tampak baik dan terhormat —padahal tidak. Nuraninya relatif terjaga. Ketika menyadari telah melakukan hal yang tak patut, segera ia menginstro speksi diri. Ia memilih mengundurkan diri. Hal yang hampir tak akan pernah dilakukan siapa pun di DPR, bahkan oleh mereka yang memiliki kesalahan lebih besar.
Di dalam dunia politik kita, mundur belum biasa. Sangat berbeda dengan Jepang. Pejabat yang dinilai kurang patut, berdasarkan norma Jepang, akan segera mundur. Pejabat yang dituding bersalah oleh publik akan mundur. Mereka tidak akan mencoba membela diri, dan mereka tidak sibuk berdalih menutupi kesalahan atau kekurangannya. Buat mereka, jabatan adalah kepercayaan. Bila kepercayaan pada dirinya hilang, dia akan segera menyerahkan jabatan. Apalagi kalau jelas membuat kesalahan.
Arifinto mengingatkan kita pada nilai itu. Ia mundur dari jabatannya. Hal yang dulu juga dilakukan Bung Hatta. Kebetulan atau tidak, menurut pakar politik Indra J Piliang, keduanya orang Bukittinggi. Daerah yang di masa-masa awal Indonesia banyak melahirkan pemimpin besar. Mundur dari jabatan bahkan dilakukan oleh pemimpin yang dituding pengeritiknya sebagai otoriter, seperti Soeharto. Merasa rakyat tak membutuhkannya lagi, Soeharto mundur.
Tak gampang buat memutuskan mundur. Hanya orang yang sungguh paham dan sadar apa arti jabatan yang berani mundur. Seorang yang berani mundur tahu betul bahwa jabatan bukan tujuan, jabatan hanya sarana. Bukan sarana buat memupuk kejayaan diri sendiri, melainkan sarana untuk membangun keadaan lebih baik untuk masyarakat. Maka, jabatan harus dipikul dengan penuh martabat. Jabatan dijaga dengan kepatutan dan moralitas tinggi. Seorang yang mengincar jabatan buat kejayaan diri tidak akan pernah mau mundur. Mereka akan gunakan segala cara untuk mempertahankan jabatan.
Sebaliknya bagi orang bernurani yang tahu jabatan hanya sarana, mereka akan mundur saat telah melanggar kepatutan memikul jabatan. Mereka akan mundur ketika jabatan tak lagi efektif untuk menggapai tujuan membuat kebaikan di masyarakat. Itu yang dilakukan Hatta begitu Soekarno mulai membangun pemerintahan otoriter berlabel demokrasi terpimpin.
Arifinto membuat langkah penting bagi bangsa ini, membiasakan budaya mundur. Hal yang tentu tak lepas dari sikap partainya, PKS. Partai yang dalam beberapa waktu terakhir banyak dihujani cobaan, termasuk pada kasus ini. Namun, lewat mundurnya Arifinto, PKS menunjukkan beda dengan partai lainnya. PKS melakukan hal yang hampir tak mungkin dilakukan partai lain. Dengan segala kekurangannya, partai ini relatif masih paling mengusung moralitas di kancah politik nasional.
*)sumber: Republika edisi Jumat (15/4/11) Baca Selengkapnya..
15 April 2011
Inilah Jawaban Kami...
"astaghfirullah,memalukan,inikah partai dakwah,dakwah porno?dl pks skrg gk respek lg"
Komen diatas dari seseorang yang memberi comment di akun facebook ane. Apa jawaban ane? sebagai kader ecek-ecek alias kelas teri yang hidup di dusun alias grass root, yang menyadari betapa kecilnya peran diri ini dibanding para qiyadah dengan segudang amanah, inilah yang ane jawab:
Inikah partai dakwah? YA. 100% KAMI TAK PERNAH SANGSI. Kok ada yg berbuat begitu? Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan tuntunan Nabi. Kalo memang terbukti? hukum yg akan bicara. Apa ada orang yang tidak pernah berbuat salah?
Menodai partai dakwah? KALO TERBUKTI, noda itu tinggal dibersihkan. Kalo tdk bisa dibersihkan? diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika.
Memalukan kami? TIDAK. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu u/ mengakui dan bertobat KALO ITU TERBUKTI SALAH? Hanya iblis yang sombong untuk mengakui kekeliruan diri.
Gara2 begini kami jadi berhenti? TIDAK. TAKKAN PERNAH. Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber'azam takkan pernah meninggalkan jalan dakwah ini. Kami berdakwah bukan u/ berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi guide: BERTOBAT dan dimaafkan atau KALO TDK MAU BERTOBAT sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki!
Mungkin komen ane ini ada yang akan mengomentari: "kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia". Saya akan katakan: "Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri".
Hasbunallah wani'mal wakil... kami yakin semua sudah dalam skenario Allah, tak ada satupun yang kebetulan semata. Cukuplah Allah bagi kami...
*)penulis: admin pkspiyungan Baca Selengkapnya..
Komen diatas dari seseorang yang memberi comment di akun facebook ane. Apa jawaban ane? sebagai kader ecek-ecek alias kelas teri yang hidup di dusun alias grass root, yang menyadari betapa kecilnya peran diri ini dibanding para qiyadah dengan segudang amanah, inilah yang ane jawab:
Inikah partai dakwah? YA. 100% KAMI TAK PERNAH SANGSI. Kok ada yg berbuat begitu? Husnudzon di awal, itu perintah Allah dan tuntunan Nabi. Kalo memang terbukti? hukum yg akan bicara. Apa ada orang yang tidak pernah berbuat salah?
Menodai partai dakwah? KALO TERBUKTI, noda itu tinggal dibersihkan. Kalo tdk bisa dibersihkan? diamputasi (pecat). Dan tanpa gembar-gembor, PKS sudah banyak menjatuhkan sangsi kepada kader-kadernya yang terbukti melanggar AD/ART dan etika.
Memalukan kami? TIDAK. Tapi sbg pembelajaran bg kami, YA! Kenapa harus malu u/ mengakui dan bertobat KALO ITU TERBUKTI SALAH? Hanya iblis yang sombong untuk mengakui kekeliruan diri.
Gara2 begini kami jadi berhenti? TIDAK. TAKKAN PERNAH. Krn dakwah ini tidak ditentukan satu dua orang. Bahkan seandainya semua meninggalkan arena dakwah, kami tlah ber'azam takkan pernah meninggalkan jalan dakwah ini. Kami berdakwah bukan u/ berharap puja puji atau takut dicaci. Allah-lah tujuan kami. Kalo ada yg bersalah diantara kami, Allah pula sudah memberi guide: BERTOBAT dan dimaafkan atau KALO TDK MAU BERTOBAT sungguh azab Allah sangat pedih hanya dibanding caci maki!
Mungkin komen ane ini ada yang akan mengomentari: "kasihan kader lapisan bawah yang ikhlas berjuang dan tsiqoh pada qiyadah, tapi qiyadahnya sudah pada menyimpang, hidup bergelimang dunia". Saya akan katakan: "Kasihinilah dirimu sendiri, yang hidup bergelimang prasangka dan dusta. Kasihinilah dirimu sendiri, yang lebih memilih menyendiri diterkam srigala dibanding teguh dalam jamaah penuh berkah, kasihinlah dirimu sendiri yang tiada henti sibuk mengorek orang lain tapi melupakan aib diri sendiri".
Hasbunallah wani'mal wakil... kami yakin semua sudah dalam skenario Allah, tak ada satupun yang kebetulan semata. Cukuplah Allah bagi kami...
*)penulis: admin pkspiyungan Baca Selengkapnya..
14 April 2011
07 April 2011
HAKEKAT KOALISI
Akhirnya cerita "sinetron politik berjudul pecahnya koalisi, reshufle menanti" berakhir antiklimakas dalam pentas politik nasional yang baru-baru ini dipentaskan. Antiklimaks karena ternyata SBY akhirnya lebih memilih mempertahankan koalisi dengan tidak ditendangnya Golkar dan PKS yang nyata-nyata melakukan pembangkangan terhadap arus kehendak mitra koalisi.
Dimulai sebenarnya pada kasus Century, kenakalan Golkar dan PKS sudah merepotkan mitra koalisi,bahkan ancaman reshufle sudah didengungkan oleh Partai Demokrat pasca perhelatan centurygate tersebut, tetapi hasilnya kegeraman PD tak disambut oleh SBY. Koalisi jalan terus bahkan tanpa ada statement kekecewaan apapun dari SBY atas peristiwa rapuhnya koalisi jilid pertama itu.
Klimaksnya saat hak angket mafia pajak digulirkan, walaupun yang menginisiasi awal adalah Partai Demokrat, tetapi ternyata ditengah jalan justru PD lah yang menjadi aktor utama penolak hak angket mafia pajak dan akhirnya diiikuti oleh seluruh partai mitra koalisi yang tergabung dalam Setgab, kecuali Golkar dan PKS. Dengan alasan bahwa hak angket mafia pajak adalah instrumen untuk membongkar mafia pajak di republik ini yang tentunya akan mewujudkan good governance dan itu artinya semangat atas substansi koalisi kehendak untuk menciptakan pemerintahan yang bersih bakal terwujud. Atas dasar inilah, Golkar dan PKS bersikukuh bahwa konsistensi dalam mendukung hak angket mafia pajak bukanlah suatu pengkhianatan atas koalisi,tetapi sebaliknya memperkuat hakekat visi koalisi itu sendiri.
Tetapi yang muncul menjadi arus utama dan mengemuka di publik adalah soal pengkhianatan atas koalisi. Para politisi muda Demokrat seperti Ikhsan Modjo,Ulil Absar Abdalla, Saan Mustofa dan bahkan ketua umumnya Anas Urbaningrum berada dalam garda terdepan untuk bertindak sangat keras agar Golkar dan PKS segera hengkang dari koalisi. Bahkan secara berani mengobral ke publik bahwa Presiden akan segera merombak koalisi dan segera mereshufle kabinet yang pada intinya akan mendepak Golkar dan PKS dari koalisi, dan akan digantikan oleh Gerindra dan PDIP. Tentunya tindakan para politisi muda Demokrat ini seakan mendikte kebijakan SBY bahkan cenderung mengadu domba antara istana dan Golkar-PKS. Tidak hanya itu, kekesalan Politisi muda Demokrat ini,seakan sudah tak terkendali saat Ulil Absar Abdala yang juga salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal membuat pernyataan yang kontraproduktif dengan menyatakan bahwa kehadiran PKS sejak awal adalah sebuah kesalahan karena mengaburkan citra Demokrat dan SBY yang pluralis dan Berbhineka Tunggal Ika. Tentunya pernyataan ini sungguh diluar koridor visi koalisi, bahkan cenderung tendensius terhadap PKS.
Pernyataan Ulil ini ditanggapi sinis oleh PKS, yang menyebut justru Elit Demokratlah yang memprovokasi SBY dan menghadapkan pada situasi yang bisa meruntuhkan kewibawaan presiden. Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak SBY soal konflik ini, tapi yang kita bisa tangkap adalah pernyataan yang pada akhirnya adalah koalisi tetap dipertahankan tanpa mengeluarkan Golkar dan PKS, sekaligus menyebut bahwa seakan-akan ada yang memaksa dan membuat situasi agar SBY segera melakukan reshuffle.
Lalu apa yang akan terjadi kemudian pasca dipertahankan koalisi ini? Padahal setidaknya ada 3 peristiwa politik lagi yang diprediksi akan memunculkan terulangnya pembangkangan mitra koalisi ini? Yang pertama adalah soal RUUK Yogyakarta,Golkar dan PKS sudah sejak awal menyatakan dukungan terhadap penetapan Sultan untuk menjadi Gubernur, Bahkan PKS melalui sikap resminya saat Mukernas di yogyakarta didepan Sultan Hamengkubuwono X secara terang-terangan mendukung penetapan, sikap ini tentunya sangat bertentangan dengan Partai Demokrat dan pemerintah. Kedua soal rencana pemerintah menaikan harga BBM,nampaknya kembali PKS akan kembali berbeda haluan dengan mitra koalisi, dan kembali akan seirama dengan partai oposisi PDIP. Dan yang terakhir soal RUU politik, yang tentunya hal ini akan mencairkan suasana koalisi dan rentan akan rontoknya mitra koalisi.
Lalu apakah proyeksi pecahnya koalisi kembali akan menjadi sorotan utama politik nasional?apakah reshufle akan menjadi gertakan kosong atau betul-Betul dilaksanakan? yang pasti rakyat sudah muak akan konflik ini,karena tentunya konflik ini adalah barang mewah untuk dinikmati bagi rakyat,karena ini tak akan memberikan implikasi positif bagi rakyat.Lalu apakah ada cara agar konflik koalisi tak akan tersaji secara vulgar kembali?
Sebenarnya konflik koalisi terjadi karena terjadinya ketimpangan pemahaman akan hakekat koalisi itu sendiri. Saya menilai kebanyakan politisi yang tergabung dalam koalisi ini beranggapan koalisi itu adalah “satu kata” tanpa memperhatikan aspek yang menjiwai makna satu kata tersebut. Karena jika tak ada penjiwaan akan makna satu kata itulah,koalisi berubah menjadi akuisisi yang tentunya inilah akar dari masalah konflik koalisi itu.
Lalu bagaimana “satu kata” itu harus dijiwai? Ada 4 hal yang harus dijiwai dalam proses koalisi,yang pertama adalah berkoalisi itu bermakna berkehendak sama,memiliki cara pandang yang tunggal terhadap target berkoalisi itu,dan memiliki tujuan serta visi yang sama. Ini adalah hal yang paling fundamental dalam berkoalisi, biasanya penjiwaan ini relatif mudah untuk disatukan.
Kedua soal teknis komunikasi berkoalisi. Wajib hukumnya, komunikasi itu sifatnya transparan,tak ada hal yang ditutupi,dan tentunya intensif. Tak bisa proses komunikasi itu satu arah,tetapi harus dua arah dan tentunya didasarkan pada argumentasi yang lugas bukan emosional. Fungsi komunikasi transparan adalah agar koalisi itu akan terkondisikan layaknya dapur yang meracik untuk menyajikan masakan yang bisa dinikmati oleh pelanggan dan tentunya memuaskan.
Ketiga adalah soal suasana egaliter. Ini menjadi syarat psikologis yang fatal jika tak direalisasikan. Pimpinan koalisi bukanlah lebih tinggi dari mitranya,tetapi sebagai peran manajerial yang membuat agar peserta koalisi merasa nyaman karena eksistensi dalam koalisi menjadi sangat signifikan untuk dirasakan oleh peserta koalisi. Coba perhatikan pernyataan beberapa kali yang disampaikan oleh Golkar dan PKS yang secara tegas selama ini tanpa ada pembicaraaan internal di koalisi tiba-tiba ada keputusan koalisi yang wajib diikuti,dan itu langsung disampaikan dipublik, sehingga ada kekagetan diantara mereka. Tentunya disini adalah eksistensi peserta koalisi menjadi tergadaikan tergantikan instruksi atasan bawahan yang pada akhirnya membuat tidak nyaman peserta koalisi.
Terakhir adalah soal indepedensi. Koalisi bukanlah soal pemaksaan akan sikap akhir politik,tetapi tetap mengacu pada soal visi dan ideologi masing-masing peserta koalisi. Makanya koalisi itu sifatnya adalah cair,berumur pendek,dan tentunya tak bisa menjadi alat stempel kebijakan. Indepedensi disini bermakna pula tak ada jalur komando struktural yang menjadikan adannya intervensi dari peserta koalisi. Independensi disini juga harus diartikan sebagai keselarasan antara visi partai itu sendiri dengan kesatuan kehendak kolektif.
Jadi yang dimaksud dengan hakekat koalisi adalah tercapainya kehendak dan visi yang sama atas suatu hal,terjalinnya komunikasi transparan dan intensif dengan tetap saling menjaga suasana egaliter antar sesama mitra koalisi sehingga terwujudnya keselaran visi partai dengan kehendak kolektif koalisi.
Saya yakin jika empat penjiwaaan itu bisa dijaga dan menjadi kultur dalam berkoalisi,maka tak akan ada lagi menu konflik koalisi,tak perlu lagi saling gertak dan saling ancam mengancam antar mitra koalisi. Sekali lagi,jika ini dipegang teguh maka,koalisi akan menjadi sangat produktif dan tentunya rakyat akan lebih menganggap elitnya telah mampu dewasa dalam berpolitik. Wallahu a'lam
Penulis:
Muhammad Ikhlas Thamrin,SH
Ketua Bidang Politik, Hukum dan Pemerintahaan DPD PKS Solo Baca Selengkapnya..
Dimulai sebenarnya pada kasus Century, kenakalan Golkar dan PKS sudah merepotkan mitra koalisi,bahkan ancaman reshufle sudah didengungkan oleh Partai Demokrat pasca perhelatan centurygate tersebut, tetapi hasilnya kegeraman PD tak disambut oleh SBY. Koalisi jalan terus bahkan tanpa ada statement kekecewaan apapun dari SBY atas peristiwa rapuhnya koalisi jilid pertama itu.
Klimaksnya saat hak angket mafia pajak digulirkan, walaupun yang menginisiasi awal adalah Partai Demokrat, tetapi ternyata ditengah jalan justru PD lah yang menjadi aktor utama penolak hak angket mafia pajak dan akhirnya diiikuti oleh seluruh partai mitra koalisi yang tergabung dalam Setgab, kecuali Golkar dan PKS. Dengan alasan bahwa hak angket mafia pajak adalah instrumen untuk membongkar mafia pajak di republik ini yang tentunya akan mewujudkan good governance dan itu artinya semangat atas substansi koalisi kehendak untuk menciptakan pemerintahan yang bersih bakal terwujud. Atas dasar inilah, Golkar dan PKS bersikukuh bahwa konsistensi dalam mendukung hak angket mafia pajak bukanlah suatu pengkhianatan atas koalisi,tetapi sebaliknya memperkuat hakekat visi koalisi itu sendiri.
Tetapi yang muncul menjadi arus utama dan mengemuka di publik adalah soal pengkhianatan atas koalisi. Para politisi muda Demokrat seperti Ikhsan Modjo,Ulil Absar Abdalla, Saan Mustofa dan bahkan ketua umumnya Anas Urbaningrum berada dalam garda terdepan untuk bertindak sangat keras agar Golkar dan PKS segera hengkang dari koalisi. Bahkan secara berani mengobral ke publik bahwa Presiden akan segera merombak koalisi dan segera mereshufle kabinet yang pada intinya akan mendepak Golkar dan PKS dari koalisi, dan akan digantikan oleh Gerindra dan PDIP. Tentunya tindakan para politisi muda Demokrat ini seakan mendikte kebijakan SBY bahkan cenderung mengadu domba antara istana dan Golkar-PKS. Tidak hanya itu, kekesalan Politisi muda Demokrat ini,seakan sudah tak terkendali saat Ulil Absar Abdala yang juga salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal membuat pernyataan yang kontraproduktif dengan menyatakan bahwa kehadiran PKS sejak awal adalah sebuah kesalahan karena mengaburkan citra Demokrat dan SBY yang pluralis dan Berbhineka Tunggal Ika. Tentunya pernyataan ini sungguh diluar koridor visi koalisi, bahkan cenderung tendensius terhadap PKS.
Pernyataan Ulil ini ditanggapi sinis oleh PKS, yang menyebut justru Elit Demokratlah yang memprovokasi SBY dan menghadapkan pada situasi yang bisa meruntuhkan kewibawaan presiden. Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak SBY soal konflik ini, tapi yang kita bisa tangkap adalah pernyataan yang pada akhirnya adalah koalisi tetap dipertahankan tanpa mengeluarkan Golkar dan PKS, sekaligus menyebut bahwa seakan-akan ada yang memaksa dan membuat situasi agar SBY segera melakukan reshuffle.
Lalu apa yang akan terjadi kemudian pasca dipertahankan koalisi ini? Padahal setidaknya ada 3 peristiwa politik lagi yang diprediksi akan memunculkan terulangnya pembangkangan mitra koalisi ini? Yang pertama adalah soal RUUK Yogyakarta,Golkar dan PKS sudah sejak awal menyatakan dukungan terhadap penetapan Sultan untuk menjadi Gubernur, Bahkan PKS melalui sikap resminya saat Mukernas di yogyakarta didepan Sultan Hamengkubuwono X secara terang-terangan mendukung penetapan, sikap ini tentunya sangat bertentangan dengan Partai Demokrat dan pemerintah. Kedua soal rencana pemerintah menaikan harga BBM,nampaknya kembali PKS akan kembali berbeda haluan dengan mitra koalisi, dan kembali akan seirama dengan partai oposisi PDIP. Dan yang terakhir soal RUU politik, yang tentunya hal ini akan mencairkan suasana koalisi dan rentan akan rontoknya mitra koalisi.
Lalu apakah proyeksi pecahnya koalisi kembali akan menjadi sorotan utama politik nasional?apakah reshufle akan menjadi gertakan kosong atau betul-Betul dilaksanakan? yang pasti rakyat sudah muak akan konflik ini,karena tentunya konflik ini adalah barang mewah untuk dinikmati bagi rakyat,karena ini tak akan memberikan implikasi positif bagi rakyat.Lalu apakah ada cara agar konflik koalisi tak akan tersaji secara vulgar kembali?
Sebenarnya konflik koalisi terjadi karena terjadinya ketimpangan pemahaman akan hakekat koalisi itu sendiri. Saya menilai kebanyakan politisi yang tergabung dalam koalisi ini beranggapan koalisi itu adalah “satu kata” tanpa memperhatikan aspek yang menjiwai makna satu kata tersebut. Karena jika tak ada penjiwaan akan makna satu kata itulah,koalisi berubah menjadi akuisisi yang tentunya inilah akar dari masalah konflik koalisi itu.
Lalu bagaimana “satu kata” itu harus dijiwai? Ada 4 hal yang harus dijiwai dalam proses koalisi,yang pertama adalah berkoalisi itu bermakna berkehendak sama,memiliki cara pandang yang tunggal terhadap target berkoalisi itu,dan memiliki tujuan serta visi yang sama. Ini adalah hal yang paling fundamental dalam berkoalisi, biasanya penjiwaan ini relatif mudah untuk disatukan.
Kedua soal teknis komunikasi berkoalisi. Wajib hukumnya, komunikasi itu sifatnya transparan,tak ada hal yang ditutupi,dan tentunya intensif. Tak bisa proses komunikasi itu satu arah,tetapi harus dua arah dan tentunya didasarkan pada argumentasi yang lugas bukan emosional. Fungsi komunikasi transparan adalah agar koalisi itu akan terkondisikan layaknya dapur yang meracik untuk menyajikan masakan yang bisa dinikmati oleh pelanggan dan tentunya memuaskan.
Ketiga adalah soal suasana egaliter. Ini menjadi syarat psikologis yang fatal jika tak direalisasikan. Pimpinan koalisi bukanlah lebih tinggi dari mitranya,tetapi sebagai peran manajerial yang membuat agar peserta koalisi merasa nyaman karena eksistensi dalam koalisi menjadi sangat signifikan untuk dirasakan oleh peserta koalisi. Coba perhatikan pernyataan beberapa kali yang disampaikan oleh Golkar dan PKS yang secara tegas selama ini tanpa ada pembicaraaan internal di koalisi tiba-tiba ada keputusan koalisi yang wajib diikuti,dan itu langsung disampaikan dipublik, sehingga ada kekagetan diantara mereka. Tentunya disini adalah eksistensi peserta koalisi menjadi tergadaikan tergantikan instruksi atasan bawahan yang pada akhirnya membuat tidak nyaman peserta koalisi.
Terakhir adalah soal indepedensi. Koalisi bukanlah soal pemaksaan akan sikap akhir politik,tetapi tetap mengacu pada soal visi dan ideologi masing-masing peserta koalisi. Makanya koalisi itu sifatnya adalah cair,berumur pendek,dan tentunya tak bisa menjadi alat stempel kebijakan. Indepedensi disini bermakna pula tak ada jalur komando struktural yang menjadikan adannya intervensi dari peserta koalisi. Independensi disini juga harus diartikan sebagai keselarasan antara visi partai itu sendiri dengan kesatuan kehendak kolektif.
Jadi yang dimaksud dengan hakekat koalisi adalah tercapainya kehendak dan visi yang sama atas suatu hal,terjalinnya komunikasi transparan dan intensif dengan tetap saling menjaga suasana egaliter antar sesama mitra koalisi sehingga terwujudnya keselaran visi partai dengan kehendak kolektif koalisi.
Saya yakin jika empat penjiwaaan itu bisa dijaga dan menjadi kultur dalam berkoalisi,maka tak akan ada lagi menu konflik koalisi,tak perlu lagi saling gertak dan saling ancam mengancam antar mitra koalisi. Sekali lagi,jika ini dipegang teguh maka,koalisi akan menjadi sangat produktif dan tentunya rakyat akan lebih menganggap elitnya telah mampu dewasa dalam berpolitik. Wallahu a'lam
Penulis:
Muhammad Ikhlas Thamrin,SH
Ketua Bidang Politik, Hukum dan Pemerintahaan DPD PKS Solo Baca Selengkapnya..
05 April 2011
Menakar Tsiqah Kita Kepada Pemimpin
Tsiqah dalam Sirah
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa dalam perjanjian Hudaibiyah. Umar ibnul Khaththab Ra tidak puas akan kebijakan yang diambil Rasulullah Saw. Ia berkata, ‘Kemudian aku datangi Rasulullah Saw. lalu aku tanyakan padanya.
‘Bukankah engkau Rasulullah Saw.?’.
Beliau menjawab, ‘Ya, benar’. ‘
Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita berada di atas kebatilan?’, tanyaku.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
‘Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka?’, tanyaku kembali.
‘Ya, benar’, jawab Rasulullah Saw.
‘Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan’, tanyaku lagi.
‘Sesungguhnya aku adalah Rasulullah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti membelaku’, jawab Nabi.
‘Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf?’, tanyaku.
‘Ya, benar’, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa engkau akan datang pada tahun ini’, jawab beliau.
Aku menjawab, ‘Tidak’.
‘Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah’, tegas Nabi Saw.
Namun Umar ibnul Khaththab tidak merasa puas dengan jawaban Rasulullah Saw. tersebut. Sehingga ia datangi Abu Bakar Shiddiq Ra. lalu menanyakan apa yang tadi dia tanyakan kepada Rasulullah Saw.
Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, sesungguhnya dia adalah Rasulullah. Dia tidak akan menyalahi perintah Tuhannya dan Allah pun tidak akan membiarkannya’.
Tak lama kemudia turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah Saw. lalu Nabi segera panggil Umar ibnul Khaththab Ra. dan membacakan surat Al Fath tersebut kepadanya.
Lalu Abu Bakar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu kemenangan (Al Fath)?’.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
Barulah hati Umar merasa tenang dengan jawaban tersebut. Dan tak ada sedikitpun keraguan dalam hati para sahabat atas kebijakan yang ditempuh Rasulullah Saw.
Tsiqah dan urgensinya
Hasan Al Banna menjelaskan bahwa makna tsiqah adalah ketenangan jundi terhadap qiyadahnya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin cinta, menghargai, menghormati serta taat. Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65).
Qiyadah bagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa qiyadah. Harmonisasi antara qiyadah dan jundiyah akan menjadikan dakwah kuat, program terlaksana, target tercapai dan bisa menghadapi segala macam bentuk rintangan. Jadi tsiqah terhadap qiyadah ujung tombak keberhasilan dakwah.Oleh karena itu masalah ketsiqahan antara qiyadah dan junud menjadi masalah yang cukup urgen. Masalahnya ia menjadi simpul yang menguatkan jalinan antara satu dengan yang lain atau juga melemahkannya. Sedapat mungkin orang-orang yang terlibat aktif dalam dakwah ini tidak melukai dan menodai ketsiqahannya. Qiyadah percaya dan yakin sepenuh hati dengan kemampuan dan upaya junudnya. Demikian pula seorang junud percaya penuh kepada qiyadahnya terhadap segala hal yang telah diputuskannya. Hubungan yang harmonis antara qiyadah dan junud atau sebaliknya dapat menjadi mesin produktivitas bagi dakwah ini.
Ibrah dalam Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah satu dari sekian peristiwa yang menjadi ibrah bagi para aktivis dakwah. 1.Keterbatasan pemahaman dan informasi atas sikap yang diambil Rasulullah Saw. menjadikan sahabat Umar ibnul Khaththab Ra menyangsikan apa yang dilakukan beliau dengan orang Quraisy.
2.Sikap Umar tersebut berdampak pada sikap para sahabat yang lamban untuk digerakkan melaksanakan perintah Rasulullah Saw dalam menyembelih dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
3.Namun peristiwa itu tidak berlangsung lama. Beliau segera menyadari bahwa mereka perlu digerakkan dari tombolnya. Maka beliau pun memulai dari dirinya untuk melakukan apa yang diperintahkannya tadi. Baru selepas itu para sahabat pun berbondong-bondong menjalankannya.
4.Peristiwa ini terhenti dan tidak berkembang hingga ke akar-akar rumput. Dengan cepat kasus itu terselesaikan. Allah Swt menyelamatkan komunitas kaum muslimin dari perpecahan. Ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya melandasi kekuatan persatuan tersebut. “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfaal: 46)
Tsiqah Buah Interaksi Berkesinambungan
Tsiqah dan kepercayaan tidak muncul tiba-tiba. . Melainkan ia adalah buah dari interaksi yang amat lama. Paling tidak dari interaksi yang sangat lama itu dapat memahami keadaan dan kondisinya masing-masing. Sebagaimana peristiwa Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Ketika peristiwa itu diceritakan beliau kepada masyarakat luas. Terjadilah kegegeran di kalangan umum. Mereka menyangsikan kejadian yang dialami Rasulullah Saw. Logika mereka belum sampai untuk menerima peristiwa tersebut. Namun sewaktu kasus itu diceritakan kepada Abu Bakar As Shiddiq Ra. dia amat mempercayainya. Bahkan bila kisahnya jauh lebih dahsyat dari yang didengar orang-orang Quraisy sekalipun ia mempercayainya. Alasannya karena sejak kecil ia berteman dengan Rasulullah Saw. dan selama pertemanan yang sangat lama itu, Abu Bakar tidak pernah menemukan pada pribadi Rasulullah, sikap yang mengada-ada. Lebih-lebih berdusta. Hasil interaksi yang cukup lama itu menjadi perisai diri terhadap pribadi Rasulullah Saw. Sehingga tidak ada celah sekecil apapun dalam diri Abu bakar untuk bersikap menduga-duga.
Tarbiyah yang intens bisa sebagai jalan untuk merajut hubungan yang harmonis antar personal. Baik hubungan antara qiyadah dan jundiyah juga antara jundiyah sendiri. Tarbiyah yang berlangsung sekian lama dapat menjadi alat bantu untuk saling memahami kondisi masing-masing orang yang berada di dalamnya. Baik terkait dengan karakter, sikap, ide dan kemauannya. Oleh karenanya mereka yang sangat lama berinteraksi dengan Rasulullah Saw. tidak memiliki persoalan yang semakin rumit. Tetapi mereka yang lemah hubungan interaksinya dapat menjadi faktor pemicu yang meruwewtkan masalah. Perhatikanlah kasus-kasus pembangkangan terhadap Rasulullah Saw. dalam sejarah banyak dilakukan oleh orang-orang yang lemah berinteraksi dengan beliau. Termasuk daerah-daerah yang hubungannya belum kokoh dalam dereten sejarah paling banyak bergolak ketimbang daerah-daerah yang dekat hubungannya.
Kiat-kiat merajut tsiqah
Ketidaktsiqahan antara qiyadah dan junud ini tidak boleh terjadi terlebih berlarut-larut. Ia harus segera disingkirkan dan diperbaiki dengan cepat. Adapun upaya yang dapat kita lakukan untuk kembali merajutnya diantaranya sebagai berikut:
Pertama, saling memahami bahwa tsiqah antara qiyadah dan jundiyah merupakan modal besar dalam membangun bangunan dakwah ini. Dan ketsiqahan yang utuh hanya melahirkan ketenangan dan ketentraman. Sedangkan ketidaktsiqahan adalah jendela kehancuran bagi dakwah ini.
Kedua, saling menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kerangka ubudiyah. Karenanya jauhkan diri dari tendensi material dan kebusukan hati. Kerja dakwah dan membangun bangunan dakwah adalah amal mulia. Allah Swt perintahkan untuk terus konsisten dengan kebersamaan orang-orang yang tulus dalam pengabdian. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)
Ketiga, berupaya untuk mengalah demi kemashlahatan dakwah yang jauh lebih besar. Sikap itu diutamakan kepada para kader. Sehingga mereka tetap memberikan rasa hormat dan ta’zhim kepada qiyadah. Isu utamanya bukan lagi pendapat pribadi. Akan tetapi isu utama yang harus diangkat adalah kemashlahatan dakwah. Bagaimana nasib dakwah hari ini dan akan datang. Bagaimana pula peta perjalanan dakwah yang sedang berlangsung ini dan bagaimana rekrutmen kader baru serta target yang terbina. Inilah yang hendaknya selalu terngiang-ngiang dalam benak orang-orang yang melibatkan dirinya dalam barisan dakwah.
Keempat, mencari pihak yang netral dan dapat menetralisir keadaan. Sehingga dua titik yang mempunyai kecenderungan meruncing menjadi tumpul kembali. Dan akhirnya dapat direkatkan. Bila kasus Hudaibiyah ini yang menjadi sandaran isu kita dapat melihat sikap Umar Ra yang mendatangi Abu Bakar Ra untuk lebih mendapatkan ketenangan dalam mengambil sebuah sikap. Dan Abu Bakar mampu menetralisir keadaan sehingga tidak menimbulkan keruncingan. Begitu pula pihak-pihak yang didatangi agar tidak menambah persoalan baru bagi ketegangan yang terjadi. Malah seharusnya merukunkan kembali semua hal yang menyebabkan disharmonisisasi.
Kelima, saling berdoa untuk kebaikan semua pihak. Allah berfirman: ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Al-Hasyr: 10).
Kita semua berharap agar harmonisasi qiyadah dan jundiyah terpelihara terus. Wallahu ‘alam bishshawwab.
(PKSACEH.NET/Salman Syarifudin) Baca Selengkapnya..
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa dalam perjanjian Hudaibiyah. Umar ibnul Khaththab Ra tidak puas akan kebijakan yang diambil Rasulullah Saw. Ia berkata, ‘Kemudian aku datangi Rasulullah Saw. lalu aku tanyakan padanya.
‘Bukankah engkau Rasulullah Saw.?’.
Beliau menjawab, ‘Ya, benar’. ‘
Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita berada di atas kebatilan?’, tanyaku.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
‘Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka?’, tanyaku kembali.
‘Ya, benar’, jawab Rasulullah Saw.
‘Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan’, tanyaku lagi.
‘Sesungguhnya aku adalah Rasulullah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti membelaku’, jawab Nabi.
‘Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf?’, tanyaku.
‘Ya, benar’, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa engkau akan datang pada tahun ini’, jawab beliau.
Aku menjawab, ‘Tidak’.
‘Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah’, tegas Nabi Saw.
Namun Umar ibnul Khaththab tidak merasa puas dengan jawaban Rasulullah Saw. tersebut. Sehingga ia datangi Abu Bakar Shiddiq Ra. lalu menanyakan apa yang tadi dia tanyakan kepada Rasulullah Saw.
Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, sesungguhnya dia adalah Rasulullah. Dia tidak akan menyalahi perintah Tuhannya dan Allah pun tidak akan membiarkannya’.
Tak lama kemudia turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah Saw. lalu Nabi segera panggil Umar ibnul Khaththab Ra. dan membacakan surat Al Fath tersebut kepadanya.
Lalu Abu Bakar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu kemenangan (Al Fath)?’.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
Barulah hati Umar merasa tenang dengan jawaban tersebut. Dan tak ada sedikitpun keraguan dalam hati para sahabat atas kebijakan yang ditempuh Rasulullah Saw.
Tsiqah dan urgensinya
Hasan Al Banna menjelaskan bahwa makna tsiqah adalah ketenangan jundi terhadap qiyadahnya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin cinta, menghargai, menghormati serta taat. Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65).
Qiyadah bagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa qiyadah. Harmonisasi antara qiyadah dan jundiyah akan menjadikan dakwah kuat, program terlaksana, target tercapai dan bisa menghadapi segala macam bentuk rintangan. Jadi tsiqah terhadap qiyadah ujung tombak keberhasilan dakwah.Oleh karena itu masalah ketsiqahan antara qiyadah dan junud menjadi masalah yang cukup urgen. Masalahnya ia menjadi simpul yang menguatkan jalinan antara satu dengan yang lain atau juga melemahkannya. Sedapat mungkin orang-orang yang terlibat aktif dalam dakwah ini tidak melukai dan menodai ketsiqahannya. Qiyadah percaya dan yakin sepenuh hati dengan kemampuan dan upaya junudnya. Demikian pula seorang junud percaya penuh kepada qiyadahnya terhadap segala hal yang telah diputuskannya. Hubungan yang harmonis antara qiyadah dan junud atau sebaliknya dapat menjadi mesin produktivitas bagi dakwah ini.
Ibrah dalam Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah satu dari sekian peristiwa yang menjadi ibrah bagi para aktivis dakwah. 1.Keterbatasan pemahaman dan informasi atas sikap yang diambil Rasulullah Saw. menjadikan sahabat Umar ibnul Khaththab Ra menyangsikan apa yang dilakukan beliau dengan orang Quraisy.
2.Sikap Umar tersebut berdampak pada sikap para sahabat yang lamban untuk digerakkan melaksanakan perintah Rasulullah Saw dalam menyembelih dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
3.Namun peristiwa itu tidak berlangsung lama. Beliau segera menyadari bahwa mereka perlu digerakkan dari tombolnya. Maka beliau pun memulai dari dirinya untuk melakukan apa yang diperintahkannya tadi. Baru selepas itu para sahabat pun berbondong-bondong menjalankannya.
4.Peristiwa ini terhenti dan tidak berkembang hingga ke akar-akar rumput. Dengan cepat kasus itu terselesaikan. Allah Swt menyelamatkan komunitas kaum muslimin dari perpecahan. Ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya melandasi kekuatan persatuan tersebut. “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfaal: 46)
Tsiqah Buah Interaksi Berkesinambungan
Tsiqah dan kepercayaan tidak muncul tiba-tiba. . Melainkan ia adalah buah dari interaksi yang amat lama. Paling tidak dari interaksi yang sangat lama itu dapat memahami keadaan dan kondisinya masing-masing. Sebagaimana peristiwa Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Ketika peristiwa itu diceritakan beliau kepada masyarakat luas. Terjadilah kegegeran di kalangan umum. Mereka menyangsikan kejadian yang dialami Rasulullah Saw. Logika mereka belum sampai untuk menerima peristiwa tersebut. Namun sewaktu kasus itu diceritakan kepada Abu Bakar As Shiddiq Ra. dia amat mempercayainya. Bahkan bila kisahnya jauh lebih dahsyat dari yang didengar orang-orang Quraisy sekalipun ia mempercayainya. Alasannya karena sejak kecil ia berteman dengan Rasulullah Saw. dan selama pertemanan yang sangat lama itu, Abu Bakar tidak pernah menemukan pada pribadi Rasulullah, sikap yang mengada-ada. Lebih-lebih berdusta. Hasil interaksi yang cukup lama itu menjadi perisai diri terhadap pribadi Rasulullah Saw. Sehingga tidak ada celah sekecil apapun dalam diri Abu bakar untuk bersikap menduga-duga.
Tarbiyah yang intens bisa sebagai jalan untuk merajut hubungan yang harmonis antar personal. Baik hubungan antara qiyadah dan jundiyah juga antara jundiyah sendiri. Tarbiyah yang berlangsung sekian lama dapat menjadi alat bantu untuk saling memahami kondisi masing-masing orang yang berada di dalamnya. Baik terkait dengan karakter, sikap, ide dan kemauannya. Oleh karenanya mereka yang sangat lama berinteraksi dengan Rasulullah Saw. tidak memiliki persoalan yang semakin rumit. Tetapi mereka yang lemah hubungan interaksinya dapat menjadi faktor pemicu yang meruwewtkan masalah. Perhatikanlah kasus-kasus pembangkangan terhadap Rasulullah Saw. dalam sejarah banyak dilakukan oleh orang-orang yang lemah berinteraksi dengan beliau. Termasuk daerah-daerah yang hubungannya belum kokoh dalam dereten sejarah paling banyak bergolak ketimbang daerah-daerah yang dekat hubungannya.
Kiat-kiat merajut tsiqah
Ketidaktsiqahan antara qiyadah dan junud ini tidak boleh terjadi terlebih berlarut-larut. Ia harus segera disingkirkan dan diperbaiki dengan cepat. Adapun upaya yang dapat kita lakukan untuk kembali merajutnya diantaranya sebagai berikut:
Pertama, saling memahami bahwa tsiqah antara qiyadah dan jundiyah merupakan modal besar dalam membangun bangunan dakwah ini. Dan ketsiqahan yang utuh hanya melahirkan ketenangan dan ketentraman. Sedangkan ketidaktsiqahan adalah jendela kehancuran bagi dakwah ini.
Kedua, saling menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kerangka ubudiyah. Karenanya jauhkan diri dari tendensi material dan kebusukan hati. Kerja dakwah dan membangun bangunan dakwah adalah amal mulia. Allah Swt perintahkan untuk terus konsisten dengan kebersamaan orang-orang yang tulus dalam pengabdian. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)
Ketiga, berupaya untuk mengalah demi kemashlahatan dakwah yang jauh lebih besar. Sikap itu diutamakan kepada para kader. Sehingga mereka tetap memberikan rasa hormat dan ta’zhim kepada qiyadah. Isu utamanya bukan lagi pendapat pribadi. Akan tetapi isu utama yang harus diangkat adalah kemashlahatan dakwah. Bagaimana nasib dakwah hari ini dan akan datang. Bagaimana pula peta perjalanan dakwah yang sedang berlangsung ini dan bagaimana rekrutmen kader baru serta target yang terbina. Inilah yang hendaknya selalu terngiang-ngiang dalam benak orang-orang yang melibatkan dirinya dalam barisan dakwah.
Keempat, mencari pihak yang netral dan dapat menetralisir keadaan. Sehingga dua titik yang mempunyai kecenderungan meruncing menjadi tumpul kembali. Dan akhirnya dapat direkatkan. Bila kasus Hudaibiyah ini yang menjadi sandaran isu kita dapat melihat sikap Umar Ra yang mendatangi Abu Bakar Ra untuk lebih mendapatkan ketenangan dalam mengambil sebuah sikap. Dan Abu Bakar mampu menetralisir keadaan sehingga tidak menimbulkan keruncingan. Begitu pula pihak-pihak yang didatangi agar tidak menambah persoalan baru bagi ketegangan yang terjadi. Malah seharusnya merukunkan kembali semua hal yang menyebabkan disharmonisisasi.
Kelima, saling berdoa untuk kebaikan semua pihak. Allah berfirman: ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Al-Hasyr: 10).
Kita semua berharap agar harmonisasi qiyadah dan jundiyah terpelihara terus. Wallahu ‘alam bishshawwab.
(PKSACEH.NET/Salman Syarifudin) Baca Selengkapnya..
01 April 2011
Bencana Lahar Dingin Merapi Kembali Terjadi, PKS Langsung Bergerak
---Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi---
(Rabu 30/3/11) Banjir lahar dingin menjebol jembatan di jalur Jogja-Magelang. Akibatnya, setengah jembatan ambrol, sementara setengahnya miring. Polisi pun menutup jalan utama dua kota tersebut.
Banjir lahar dingin mulai pukul 17.45 WIB dan jembatan ambrol sekitar pukul 18.30 WIB karena arus air sangat kuat. Sebelum ambrol terdengar bunyi gemuruh air yang sangat besar. (detik.com)
PKS langsung bergerak membantu korban. Berikut liputan (news) singkat dari twit @PKSjateng:
• Banjir lahar trjang Mgl. Jembt Pabelan runtuh. Jalur utama Mgl-Ygy putus. Relawan PKS brsiaga.
• Warga Dsn Ngemplak, slh satu Dsn di Ds Paremono mulai ngungsi.
• Saat ini 93 KK mengungsi di balai muslimin, balai pertemuan yg akn djadikan tmpt Muskerwil DPW PKS Jateng.
• Balai muslimin letaknya kira2 1 km dr jmbatan pabelan yg runtuh. Warga yg ngungsi krn rumahnya trendam.
• Relawan PKS sdh mulai bersiaga di lokasi. Bsk pagi tambahan relawan dr kota2 sktr Magelang dikerahkan.
• 3 rumah hilang & 2 rusak di dsn gunung lemah ds gondowangi, sawangan. Jalan utama kampung terputus.
• Insya Allah prsiapan terus brjalan. Malam ini (30/3) panitia dan relawan besrta msyarakat desa paremono sdg kordinasi di lapangan.
• Bantuan yg dibthkan sdg diinventarisir. Bantuan uang via 136-000975146-9 Mandiri cabang semarang pahlawan.A.n kharis raharjo,S.E.
• Relawan daerah lain siap2 tunggu giliran. Mobilisasi awal relawan PKS Magelang dan kota2 sekitarnya.
• Di DPD PKS Magelang malam ini 50 relawan PKS sdg kordinasi. Jam 1 mlm nanti tmbhan relwan dtg dr solo.
• (Kamis 31/3) Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi.
*sumber: http://twitter.com/PKSjateng Baca Selengkapnya..
(Rabu 30/3/11) Banjir lahar dingin menjebol jembatan di jalur Jogja-Magelang. Akibatnya, setengah jembatan ambrol, sementara setengahnya miring. Polisi pun menutup jalan utama dua kota tersebut.
Banjir lahar dingin mulai pukul 17.45 WIB dan jembatan ambrol sekitar pukul 18.30 WIB karena arus air sangat kuat. Sebelum ambrol terdengar bunyi gemuruh air yang sangat besar. (detik.com)
PKS langsung bergerak membantu korban. Berikut liputan (news) singkat dari twit @PKSjateng:
• Banjir lahar trjang Mgl. Jembt Pabelan runtuh. Jalur utama Mgl-Ygy putus. Relawan PKS brsiaga.
• Warga Dsn Ngemplak, slh satu Dsn di Ds Paremono mulai ngungsi.
• Saat ini 93 KK mengungsi di balai muslimin, balai pertemuan yg akn djadikan tmpt Muskerwil DPW PKS Jateng.
• Balai muslimin letaknya kira2 1 km dr jmbatan pabelan yg runtuh. Warga yg ngungsi krn rumahnya trendam.
• Relawan PKS sdh mulai bersiaga di lokasi. Bsk pagi tambahan relawan dr kota2 sktr Magelang dikerahkan.
• 3 rumah hilang & 2 rusak di dsn gunung lemah ds gondowangi, sawangan. Jalan utama kampung terputus.
• Insya Allah prsiapan terus brjalan. Malam ini (30/3) panitia dan relawan besrta msyarakat desa paremono sdg kordinasi di lapangan.
• Bantuan yg dibthkan sdg diinventarisir. Bantuan uang via 136-000975146-9 Mandiri cabang semarang pahlawan.A.n kharis raharjo,S.E.
• Relawan daerah lain siap2 tunggu giliran. Mobilisasi awal relawan PKS Magelang dan kota2 sekitarnya.
• Di DPD PKS Magelang malam ini 50 relawan PKS sdg kordinasi. Jam 1 mlm nanti tmbhan relwan dtg dr solo.
• (Kamis 31/3) Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi.
*sumber: http://twitter.com/PKSjateng Baca Selengkapnya..
Langganan:
Postingan (Atom)






