Akhirnya cerita "sinetron politik berjudul pecahnya koalisi, reshufle menanti" berakhir antiklimakas dalam pentas politik nasional yang baru-baru ini dipentaskan. Antiklimaks karena ternyata SBY akhirnya lebih memilih mempertahankan koalisi dengan tidak ditendangnya Golkar dan PKS yang nyata-nyata melakukan pembangkangan terhadap arus kehendak mitra koalisi.
Dimulai sebenarnya pada kasus Century, kenakalan Golkar dan PKS sudah merepotkan mitra koalisi,bahkan ancaman reshufle sudah didengungkan oleh Partai Demokrat pasca perhelatan centurygate tersebut, tetapi hasilnya kegeraman PD tak disambut oleh SBY. Koalisi jalan terus bahkan tanpa ada statement kekecewaan apapun dari SBY atas peristiwa rapuhnya koalisi jilid pertama itu.
Klimaksnya saat hak angket mafia pajak digulirkan, walaupun yang menginisiasi awal adalah Partai Demokrat, tetapi ternyata ditengah jalan justru PD lah yang menjadi aktor utama penolak hak angket mafia pajak dan akhirnya diiikuti oleh seluruh partai mitra koalisi yang tergabung dalam Setgab, kecuali Golkar dan PKS. Dengan alasan bahwa hak angket mafia pajak adalah instrumen untuk membongkar mafia pajak di republik ini yang tentunya akan mewujudkan good governance dan itu artinya semangat atas substansi koalisi kehendak untuk menciptakan pemerintahan yang bersih bakal terwujud. Atas dasar inilah, Golkar dan PKS bersikukuh bahwa konsistensi dalam mendukung hak angket mafia pajak bukanlah suatu pengkhianatan atas koalisi,tetapi sebaliknya memperkuat hakekat visi koalisi itu sendiri.
Tetapi yang muncul menjadi arus utama dan mengemuka di publik adalah soal pengkhianatan atas koalisi. Para politisi muda Demokrat seperti Ikhsan Modjo,Ulil Absar Abdalla, Saan Mustofa dan bahkan ketua umumnya Anas Urbaningrum berada dalam garda terdepan untuk bertindak sangat keras agar Golkar dan PKS segera hengkang dari koalisi. Bahkan secara berani mengobral ke publik bahwa Presiden akan segera merombak koalisi dan segera mereshufle kabinet yang pada intinya akan mendepak Golkar dan PKS dari koalisi, dan akan digantikan oleh Gerindra dan PDIP. Tentunya tindakan para politisi muda Demokrat ini seakan mendikte kebijakan SBY bahkan cenderung mengadu domba antara istana dan Golkar-PKS. Tidak hanya itu, kekesalan Politisi muda Demokrat ini,seakan sudah tak terkendali saat Ulil Absar Abdala yang juga salah satu tokoh Jaringan Islam Liberal membuat pernyataan yang kontraproduktif dengan menyatakan bahwa kehadiran PKS sejak awal adalah sebuah kesalahan karena mengaburkan citra Demokrat dan SBY yang pluralis dan Berbhineka Tunggal Ika. Tentunya pernyataan ini sungguh diluar koridor visi koalisi, bahkan cenderung tendensius terhadap PKS.
Pernyataan Ulil ini ditanggapi sinis oleh PKS, yang menyebut justru Elit Demokratlah yang memprovokasi SBY dan menghadapkan pada situasi yang bisa meruntuhkan kewibawaan presiden. Saya tidak tahu apa yang ada dalam benak SBY soal konflik ini, tapi yang kita bisa tangkap adalah pernyataan yang pada akhirnya adalah koalisi tetap dipertahankan tanpa mengeluarkan Golkar dan PKS, sekaligus menyebut bahwa seakan-akan ada yang memaksa dan membuat situasi agar SBY segera melakukan reshuffle.
Lalu apa yang akan terjadi kemudian pasca dipertahankan koalisi ini? Padahal setidaknya ada 3 peristiwa politik lagi yang diprediksi akan memunculkan terulangnya pembangkangan mitra koalisi ini? Yang pertama adalah soal RUUK Yogyakarta,Golkar dan PKS sudah sejak awal menyatakan dukungan terhadap penetapan Sultan untuk menjadi Gubernur, Bahkan PKS melalui sikap resminya saat Mukernas di yogyakarta didepan Sultan Hamengkubuwono X secara terang-terangan mendukung penetapan, sikap ini tentunya sangat bertentangan dengan Partai Demokrat dan pemerintah. Kedua soal rencana pemerintah menaikan harga BBM,nampaknya kembali PKS akan kembali berbeda haluan dengan mitra koalisi, dan kembali akan seirama dengan partai oposisi PDIP. Dan yang terakhir soal RUU politik, yang tentunya hal ini akan mencairkan suasana koalisi dan rentan akan rontoknya mitra koalisi.
Lalu apakah proyeksi pecahnya koalisi kembali akan menjadi sorotan utama politik nasional?apakah reshufle akan menjadi gertakan kosong atau betul-Betul dilaksanakan? yang pasti rakyat sudah muak akan konflik ini,karena tentunya konflik ini adalah barang mewah untuk dinikmati bagi rakyat,karena ini tak akan memberikan implikasi positif bagi rakyat.Lalu apakah ada cara agar konflik koalisi tak akan tersaji secara vulgar kembali?
Sebenarnya konflik koalisi terjadi karena terjadinya ketimpangan pemahaman akan hakekat koalisi itu sendiri. Saya menilai kebanyakan politisi yang tergabung dalam koalisi ini beranggapan koalisi itu adalah “satu kata” tanpa memperhatikan aspek yang menjiwai makna satu kata tersebut. Karena jika tak ada penjiwaan akan makna satu kata itulah,koalisi berubah menjadi akuisisi yang tentunya inilah akar dari masalah konflik koalisi itu.
Lalu bagaimana “satu kata” itu harus dijiwai? Ada 4 hal yang harus dijiwai dalam proses koalisi,yang pertama adalah berkoalisi itu bermakna berkehendak sama,memiliki cara pandang yang tunggal terhadap target berkoalisi itu,dan memiliki tujuan serta visi yang sama. Ini adalah hal yang paling fundamental dalam berkoalisi, biasanya penjiwaan ini relatif mudah untuk disatukan.
Kedua soal teknis komunikasi berkoalisi. Wajib hukumnya, komunikasi itu sifatnya transparan,tak ada hal yang ditutupi,dan tentunya intensif. Tak bisa proses komunikasi itu satu arah,tetapi harus dua arah dan tentunya didasarkan pada argumentasi yang lugas bukan emosional. Fungsi komunikasi transparan adalah agar koalisi itu akan terkondisikan layaknya dapur yang meracik untuk menyajikan masakan yang bisa dinikmati oleh pelanggan dan tentunya memuaskan.
Ketiga adalah soal suasana egaliter. Ini menjadi syarat psikologis yang fatal jika tak direalisasikan. Pimpinan koalisi bukanlah lebih tinggi dari mitranya,tetapi sebagai peran manajerial yang membuat agar peserta koalisi merasa nyaman karena eksistensi dalam koalisi menjadi sangat signifikan untuk dirasakan oleh peserta koalisi. Coba perhatikan pernyataan beberapa kali yang disampaikan oleh Golkar dan PKS yang secara tegas selama ini tanpa ada pembicaraaan internal di koalisi tiba-tiba ada keputusan koalisi yang wajib diikuti,dan itu langsung disampaikan dipublik, sehingga ada kekagetan diantara mereka. Tentunya disini adalah eksistensi peserta koalisi menjadi tergadaikan tergantikan instruksi atasan bawahan yang pada akhirnya membuat tidak nyaman peserta koalisi.
Terakhir adalah soal indepedensi. Koalisi bukanlah soal pemaksaan akan sikap akhir politik,tetapi tetap mengacu pada soal visi dan ideologi masing-masing peserta koalisi. Makanya koalisi itu sifatnya adalah cair,berumur pendek,dan tentunya tak bisa menjadi alat stempel kebijakan. Indepedensi disini bermakna pula tak ada jalur komando struktural yang menjadikan adannya intervensi dari peserta koalisi. Independensi disini juga harus diartikan sebagai keselarasan antara visi partai itu sendiri dengan kesatuan kehendak kolektif.
Jadi yang dimaksud dengan hakekat koalisi adalah tercapainya kehendak dan visi yang sama atas suatu hal,terjalinnya komunikasi transparan dan intensif dengan tetap saling menjaga suasana egaliter antar sesama mitra koalisi sehingga terwujudnya keselaran visi partai dengan kehendak kolektif koalisi.
Saya yakin jika empat penjiwaaan itu bisa dijaga dan menjadi kultur dalam berkoalisi,maka tak akan ada lagi menu konflik koalisi,tak perlu lagi saling gertak dan saling ancam mengancam antar mitra koalisi. Sekali lagi,jika ini dipegang teguh maka,koalisi akan menjadi sangat produktif dan tentunya rakyat akan lebih menganggap elitnya telah mampu dewasa dalam berpolitik. Wallahu a'lam
Penulis:
Muhammad Ikhlas Thamrin,SH
Ketua Bidang Politik, Hukum dan Pemerintahaan DPD PKS Solo
Baca Selengkapnya..
07 April 2011
05 April 2011
Menakar Tsiqah Kita Kepada Pemimpin
Tsiqah dalam Sirah
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa dalam perjanjian Hudaibiyah. Umar ibnul Khaththab Ra tidak puas akan kebijakan yang diambil Rasulullah Saw. Ia berkata, ‘Kemudian aku datangi Rasulullah Saw. lalu aku tanyakan padanya.
‘Bukankah engkau Rasulullah Saw.?’.
Beliau menjawab, ‘Ya, benar’. ‘
Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita berada di atas kebatilan?’, tanyaku.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
‘Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka?’, tanyaku kembali.
‘Ya, benar’, jawab Rasulullah Saw.
‘Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan’, tanyaku lagi.
‘Sesungguhnya aku adalah Rasulullah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti membelaku’, jawab Nabi.
‘Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf?’, tanyaku.
‘Ya, benar’, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa engkau akan datang pada tahun ini’, jawab beliau.
Aku menjawab, ‘Tidak’.
‘Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah’, tegas Nabi Saw.
Namun Umar ibnul Khaththab tidak merasa puas dengan jawaban Rasulullah Saw. tersebut. Sehingga ia datangi Abu Bakar Shiddiq Ra. lalu menanyakan apa yang tadi dia tanyakan kepada Rasulullah Saw.
Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, sesungguhnya dia adalah Rasulullah. Dia tidak akan menyalahi perintah Tuhannya dan Allah pun tidak akan membiarkannya’.
Tak lama kemudia turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah Saw. lalu Nabi segera panggil Umar ibnul Khaththab Ra. dan membacakan surat Al Fath tersebut kepadanya.
Lalu Abu Bakar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu kemenangan (Al Fath)?’.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
Barulah hati Umar merasa tenang dengan jawaban tersebut. Dan tak ada sedikitpun keraguan dalam hati para sahabat atas kebijakan yang ditempuh Rasulullah Saw.
Tsiqah dan urgensinya
Hasan Al Banna menjelaskan bahwa makna tsiqah adalah ketenangan jundi terhadap qiyadahnya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin cinta, menghargai, menghormati serta taat. Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65).
Qiyadah bagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa qiyadah. Harmonisasi antara qiyadah dan jundiyah akan menjadikan dakwah kuat, program terlaksana, target tercapai dan bisa menghadapi segala macam bentuk rintangan. Jadi tsiqah terhadap qiyadah ujung tombak keberhasilan dakwah.Oleh karena itu masalah ketsiqahan antara qiyadah dan junud menjadi masalah yang cukup urgen. Masalahnya ia menjadi simpul yang menguatkan jalinan antara satu dengan yang lain atau juga melemahkannya. Sedapat mungkin orang-orang yang terlibat aktif dalam dakwah ini tidak melukai dan menodai ketsiqahannya. Qiyadah percaya dan yakin sepenuh hati dengan kemampuan dan upaya junudnya. Demikian pula seorang junud percaya penuh kepada qiyadahnya terhadap segala hal yang telah diputuskannya. Hubungan yang harmonis antara qiyadah dan junud atau sebaliknya dapat menjadi mesin produktivitas bagi dakwah ini.
Ibrah dalam Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah satu dari sekian peristiwa yang menjadi ibrah bagi para aktivis dakwah. 1.Keterbatasan pemahaman dan informasi atas sikap yang diambil Rasulullah Saw. menjadikan sahabat Umar ibnul Khaththab Ra menyangsikan apa yang dilakukan beliau dengan orang Quraisy.
2.Sikap Umar tersebut berdampak pada sikap para sahabat yang lamban untuk digerakkan melaksanakan perintah Rasulullah Saw dalam menyembelih dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
3.Namun peristiwa itu tidak berlangsung lama. Beliau segera menyadari bahwa mereka perlu digerakkan dari tombolnya. Maka beliau pun memulai dari dirinya untuk melakukan apa yang diperintahkannya tadi. Baru selepas itu para sahabat pun berbondong-bondong menjalankannya.
4.Peristiwa ini terhenti dan tidak berkembang hingga ke akar-akar rumput. Dengan cepat kasus itu terselesaikan. Allah Swt menyelamatkan komunitas kaum muslimin dari perpecahan. Ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya melandasi kekuatan persatuan tersebut. “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfaal: 46)
Tsiqah Buah Interaksi Berkesinambungan
Tsiqah dan kepercayaan tidak muncul tiba-tiba. . Melainkan ia adalah buah dari interaksi yang amat lama. Paling tidak dari interaksi yang sangat lama itu dapat memahami keadaan dan kondisinya masing-masing. Sebagaimana peristiwa Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Ketika peristiwa itu diceritakan beliau kepada masyarakat luas. Terjadilah kegegeran di kalangan umum. Mereka menyangsikan kejadian yang dialami Rasulullah Saw. Logika mereka belum sampai untuk menerima peristiwa tersebut. Namun sewaktu kasus itu diceritakan kepada Abu Bakar As Shiddiq Ra. dia amat mempercayainya. Bahkan bila kisahnya jauh lebih dahsyat dari yang didengar orang-orang Quraisy sekalipun ia mempercayainya. Alasannya karena sejak kecil ia berteman dengan Rasulullah Saw. dan selama pertemanan yang sangat lama itu, Abu Bakar tidak pernah menemukan pada pribadi Rasulullah, sikap yang mengada-ada. Lebih-lebih berdusta. Hasil interaksi yang cukup lama itu menjadi perisai diri terhadap pribadi Rasulullah Saw. Sehingga tidak ada celah sekecil apapun dalam diri Abu bakar untuk bersikap menduga-duga.
Tarbiyah yang intens bisa sebagai jalan untuk merajut hubungan yang harmonis antar personal. Baik hubungan antara qiyadah dan jundiyah juga antara jundiyah sendiri. Tarbiyah yang berlangsung sekian lama dapat menjadi alat bantu untuk saling memahami kondisi masing-masing orang yang berada di dalamnya. Baik terkait dengan karakter, sikap, ide dan kemauannya. Oleh karenanya mereka yang sangat lama berinteraksi dengan Rasulullah Saw. tidak memiliki persoalan yang semakin rumit. Tetapi mereka yang lemah hubungan interaksinya dapat menjadi faktor pemicu yang meruwewtkan masalah. Perhatikanlah kasus-kasus pembangkangan terhadap Rasulullah Saw. dalam sejarah banyak dilakukan oleh orang-orang yang lemah berinteraksi dengan beliau. Termasuk daerah-daerah yang hubungannya belum kokoh dalam dereten sejarah paling banyak bergolak ketimbang daerah-daerah yang dekat hubungannya.
Kiat-kiat merajut tsiqah
Ketidaktsiqahan antara qiyadah dan junud ini tidak boleh terjadi terlebih berlarut-larut. Ia harus segera disingkirkan dan diperbaiki dengan cepat. Adapun upaya yang dapat kita lakukan untuk kembali merajutnya diantaranya sebagai berikut:
Pertama, saling memahami bahwa tsiqah antara qiyadah dan jundiyah merupakan modal besar dalam membangun bangunan dakwah ini. Dan ketsiqahan yang utuh hanya melahirkan ketenangan dan ketentraman. Sedangkan ketidaktsiqahan adalah jendela kehancuran bagi dakwah ini.
Kedua, saling menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kerangka ubudiyah. Karenanya jauhkan diri dari tendensi material dan kebusukan hati. Kerja dakwah dan membangun bangunan dakwah adalah amal mulia. Allah Swt perintahkan untuk terus konsisten dengan kebersamaan orang-orang yang tulus dalam pengabdian. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)
Ketiga, berupaya untuk mengalah demi kemashlahatan dakwah yang jauh lebih besar. Sikap itu diutamakan kepada para kader. Sehingga mereka tetap memberikan rasa hormat dan ta’zhim kepada qiyadah. Isu utamanya bukan lagi pendapat pribadi. Akan tetapi isu utama yang harus diangkat adalah kemashlahatan dakwah. Bagaimana nasib dakwah hari ini dan akan datang. Bagaimana pula peta perjalanan dakwah yang sedang berlangsung ini dan bagaimana rekrutmen kader baru serta target yang terbina. Inilah yang hendaknya selalu terngiang-ngiang dalam benak orang-orang yang melibatkan dirinya dalam barisan dakwah.
Keempat, mencari pihak yang netral dan dapat menetralisir keadaan. Sehingga dua titik yang mempunyai kecenderungan meruncing menjadi tumpul kembali. Dan akhirnya dapat direkatkan. Bila kasus Hudaibiyah ini yang menjadi sandaran isu kita dapat melihat sikap Umar Ra yang mendatangi Abu Bakar Ra untuk lebih mendapatkan ketenangan dalam mengambil sebuah sikap. Dan Abu Bakar mampu menetralisir keadaan sehingga tidak menimbulkan keruncingan. Begitu pula pihak-pihak yang didatangi agar tidak menambah persoalan baru bagi ketegangan yang terjadi. Malah seharusnya merukunkan kembali semua hal yang menyebabkan disharmonisisasi.
Kelima, saling berdoa untuk kebaikan semua pihak. Allah berfirman: ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Al-Hasyr: 10).
Kita semua berharap agar harmonisasi qiyadah dan jundiyah terpelihara terus. Wallahu ‘alam bishshawwab.
(PKSACEH.NET/Salman Syarifudin) Baca Selengkapnya..
Dalam Shahih Bukhari dan Muslim disebutkan bahwa dalam perjanjian Hudaibiyah. Umar ibnul Khaththab Ra tidak puas akan kebijakan yang diambil Rasulullah Saw. Ia berkata, ‘Kemudian aku datangi Rasulullah Saw. lalu aku tanyakan padanya.
‘Bukankah engkau Rasulullah Saw.?’.
Beliau menjawab, ‘Ya, benar’. ‘
Bukankah engkau di pihak yang benar dan musuh kita berada di atas kebatilan?’, tanyaku.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
‘Bukankah orang-orang kita yang terbunuh akan masuk surga dan orang-orang mereka yang terbunuh akan masuk neraka?’, tanyaku kembali.
‘Ya, benar’, jawab Rasulullah Saw.
‘Lalu kenapa kita menyetujui agama kita direndahkan’, tanyaku lagi.
‘Sesungguhnya aku adalah Rasulullah, aku tidak akan menyalahi perintah-Nya dan Dia pasti membelaku’, jawab Nabi.
‘Bukankah engkau telah menjanjikan bahwa kita akan datang ke Baitullah untuk melakukan thawaf?’, tanyaku.
‘Ya, benar’, tetapi apakah aku mengatakan kepadamu bahwa engkau akan datang pada tahun ini’, jawab beliau.
Aku menjawab, ‘Tidak’.
‘Engkau pasti akan datang dan thawaf di Baitullah’, tegas Nabi Saw.
Namun Umar ibnul Khaththab tidak merasa puas dengan jawaban Rasulullah Saw. tersebut. Sehingga ia datangi Abu Bakar Shiddiq Ra. lalu menanyakan apa yang tadi dia tanyakan kepada Rasulullah Saw.
Kemudian Abu Bakar berkata kepadanya, ‘Wahai Ibnul Khaththab, sesungguhnya dia adalah Rasulullah. Dia tidak akan menyalahi perintah Tuhannya dan Allah pun tidak akan membiarkannya’.
Tak lama kemudia turunlah surat Al Fath kepada Rasulullah Saw. lalu Nabi segera panggil Umar ibnul Khaththab Ra. dan membacakan surat Al Fath tersebut kepadanya.
Lalu Abu Bakar bertanya, ‘Wahai Rasulullah, apakah hal itu kemenangan (Al Fath)?’.
Jawab Nabi, ‘Ya, benar’.
Barulah hati Umar merasa tenang dengan jawaban tersebut. Dan tak ada sedikitpun keraguan dalam hati para sahabat atas kebijakan yang ditempuh Rasulullah Saw.
Tsiqah dan urgensinya
Hasan Al Banna menjelaskan bahwa makna tsiqah adalah ketenangan jundi terhadap qiyadahnya dalam hal kemampuannya dan keikhlasannya yang menjadikannya semakin cinta, menghargai, menghormati serta taat. Allah berfirman: “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. (QS. An-Nisaa’: 65).
Qiyadah bagian daripada dakwah. Tidak ada dakwah tanpa qiyadah. Harmonisasi antara qiyadah dan jundiyah akan menjadikan dakwah kuat, program terlaksana, target tercapai dan bisa menghadapi segala macam bentuk rintangan. Jadi tsiqah terhadap qiyadah ujung tombak keberhasilan dakwah.Oleh karena itu masalah ketsiqahan antara qiyadah dan junud menjadi masalah yang cukup urgen. Masalahnya ia menjadi simpul yang menguatkan jalinan antara satu dengan yang lain atau juga melemahkannya. Sedapat mungkin orang-orang yang terlibat aktif dalam dakwah ini tidak melukai dan menodai ketsiqahannya. Qiyadah percaya dan yakin sepenuh hati dengan kemampuan dan upaya junudnya. Demikian pula seorang junud percaya penuh kepada qiyadahnya terhadap segala hal yang telah diputuskannya. Hubungan yang harmonis antara qiyadah dan junud atau sebaliknya dapat menjadi mesin produktivitas bagi dakwah ini.
Ibrah dalam Perjanjian Hudaibiyah
Perjanjian Hudaibiyah satu dari sekian peristiwa yang menjadi ibrah bagi para aktivis dakwah. 1.Keterbatasan pemahaman dan informasi atas sikap yang diambil Rasulullah Saw. menjadikan sahabat Umar ibnul Khaththab Ra menyangsikan apa yang dilakukan beliau dengan orang Quraisy.
2.Sikap Umar tersebut berdampak pada sikap para sahabat yang lamban untuk digerakkan melaksanakan perintah Rasulullah Saw dalam menyembelih dan mencukur rambut sebagai tanda tahallul.
3.Namun peristiwa itu tidak berlangsung lama. Beliau segera menyadari bahwa mereka perlu digerakkan dari tombolnya. Maka beliau pun memulai dari dirinya untuk melakukan apa yang diperintahkannya tadi. Baru selepas itu para sahabat pun berbondong-bondong menjalankannya.
4.Peristiwa ini terhenti dan tidak berkembang hingga ke akar-akar rumput. Dengan cepat kasus itu terselesaikan. Allah Swt menyelamatkan komunitas kaum muslimin dari perpecahan. Ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya melandasi kekuatan persatuan tersebut. “Dan ta’atlah kepada Allah dan Rasulnya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfaal: 46)
Tsiqah Buah Interaksi Berkesinambungan
Tsiqah dan kepercayaan tidak muncul tiba-tiba. . Melainkan ia adalah buah dari interaksi yang amat lama. Paling tidak dari interaksi yang sangat lama itu dapat memahami keadaan dan kondisinya masing-masing. Sebagaimana peristiwa Isra’ dan Mi’rajnya Rasulullah Saw. Ketika peristiwa itu diceritakan beliau kepada masyarakat luas. Terjadilah kegegeran di kalangan umum. Mereka menyangsikan kejadian yang dialami Rasulullah Saw. Logika mereka belum sampai untuk menerima peristiwa tersebut. Namun sewaktu kasus itu diceritakan kepada Abu Bakar As Shiddiq Ra. dia amat mempercayainya. Bahkan bila kisahnya jauh lebih dahsyat dari yang didengar orang-orang Quraisy sekalipun ia mempercayainya. Alasannya karena sejak kecil ia berteman dengan Rasulullah Saw. dan selama pertemanan yang sangat lama itu, Abu Bakar tidak pernah menemukan pada pribadi Rasulullah, sikap yang mengada-ada. Lebih-lebih berdusta. Hasil interaksi yang cukup lama itu menjadi perisai diri terhadap pribadi Rasulullah Saw. Sehingga tidak ada celah sekecil apapun dalam diri Abu bakar untuk bersikap menduga-duga.
Tarbiyah yang intens bisa sebagai jalan untuk merajut hubungan yang harmonis antar personal. Baik hubungan antara qiyadah dan jundiyah juga antara jundiyah sendiri. Tarbiyah yang berlangsung sekian lama dapat menjadi alat bantu untuk saling memahami kondisi masing-masing orang yang berada di dalamnya. Baik terkait dengan karakter, sikap, ide dan kemauannya. Oleh karenanya mereka yang sangat lama berinteraksi dengan Rasulullah Saw. tidak memiliki persoalan yang semakin rumit. Tetapi mereka yang lemah hubungan interaksinya dapat menjadi faktor pemicu yang meruwewtkan masalah. Perhatikanlah kasus-kasus pembangkangan terhadap Rasulullah Saw. dalam sejarah banyak dilakukan oleh orang-orang yang lemah berinteraksi dengan beliau. Termasuk daerah-daerah yang hubungannya belum kokoh dalam dereten sejarah paling banyak bergolak ketimbang daerah-daerah yang dekat hubungannya.
Kiat-kiat merajut tsiqah
Ketidaktsiqahan antara qiyadah dan junud ini tidak boleh terjadi terlebih berlarut-larut. Ia harus segera disingkirkan dan diperbaiki dengan cepat. Adapun upaya yang dapat kita lakukan untuk kembali merajutnya diantaranya sebagai berikut:
Pertama, saling memahami bahwa tsiqah antara qiyadah dan jundiyah merupakan modal besar dalam membangun bangunan dakwah ini. Dan ketsiqahan yang utuh hanya melahirkan ketenangan dan ketentraman. Sedangkan ketidaktsiqahan adalah jendela kehancuran bagi dakwah ini.
Kedua, saling menyadari bahwa apa yang kita lakukan adalah kerangka ubudiyah. Karenanya jauhkan diri dari tendensi material dan kebusukan hati. Kerja dakwah dan membangun bangunan dakwah adalah amal mulia. Allah Swt perintahkan untuk terus konsisten dengan kebersamaan orang-orang yang tulus dalam pengabdian. Allah berfirman:
“Dan bersabarlah kamu bersama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan kehidupan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas. (QS. Al-Kahfi: 28)
Ketiga, berupaya untuk mengalah demi kemashlahatan dakwah yang jauh lebih besar. Sikap itu diutamakan kepada para kader. Sehingga mereka tetap memberikan rasa hormat dan ta’zhim kepada qiyadah. Isu utamanya bukan lagi pendapat pribadi. Akan tetapi isu utama yang harus diangkat adalah kemashlahatan dakwah. Bagaimana nasib dakwah hari ini dan akan datang. Bagaimana pula peta perjalanan dakwah yang sedang berlangsung ini dan bagaimana rekrutmen kader baru serta target yang terbina. Inilah yang hendaknya selalu terngiang-ngiang dalam benak orang-orang yang melibatkan dirinya dalam barisan dakwah.
Keempat, mencari pihak yang netral dan dapat menetralisir keadaan. Sehingga dua titik yang mempunyai kecenderungan meruncing menjadi tumpul kembali. Dan akhirnya dapat direkatkan. Bila kasus Hudaibiyah ini yang menjadi sandaran isu kita dapat melihat sikap Umar Ra yang mendatangi Abu Bakar Ra untuk lebih mendapatkan ketenangan dalam mengambil sebuah sikap. Dan Abu Bakar mampu menetralisir keadaan sehingga tidak menimbulkan keruncingan. Begitu pula pihak-pihak yang didatangi agar tidak menambah persoalan baru bagi ketegangan yang terjadi. Malah seharusnya merukunkan kembali semua hal yang menyebabkan disharmonisisasi.
Kelima, saling berdoa untuk kebaikan semua pihak. Allah berfirman: ” Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa:”Ya Tuhan kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyanyang”. (QS. Al-Hasyr: 10).
Kita semua berharap agar harmonisasi qiyadah dan jundiyah terpelihara terus. Wallahu ‘alam bishshawwab.
(PKSACEH.NET/Salman Syarifudin) Baca Selengkapnya..
01 April 2011
Bencana Lahar Dingin Merapi Kembali Terjadi, PKS Langsung Bergerak
---Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi---
(Rabu 30/3/11) Banjir lahar dingin menjebol jembatan di jalur Jogja-Magelang. Akibatnya, setengah jembatan ambrol, sementara setengahnya miring. Polisi pun menutup jalan utama dua kota tersebut.
Banjir lahar dingin mulai pukul 17.45 WIB dan jembatan ambrol sekitar pukul 18.30 WIB karena arus air sangat kuat. Sebelum ambrol terdengar bunyi gemuruh air yang sangat besar. (detik.com)
PKS langsung bergerak membantu korban. Berikut liputan (news) singkat dari twit @PKSjateng:
• Banjir lahar trjang Mgl. Jembt Pabelan runtuh. Jalur utama Mgl-Ygy putus. Relawan PKS brsiaga.
• Warga Dsn Ngemplak, slh satu Dsn di Ds Paremono mulai ngungsi.
• Saat ini 93 KK mengungsi di balai muslimin, balai pertemuan yg akn djadikan tmpt Muskerwil DPW PKS Jateng.
• Balai muslimin letaknya kira2 1 km dr jmbatan pabelan yg runtuh. Warga yg ngungsi krn rumahnya trendam.
• Relawan PKS sdh mulai bersiaga di lokasi. Bsk pagi tambahan relawan dr kota2 sktr Magelang dikerahkan.
• 3 rumah hilang & 2 rusak di dsn gunung lemah ds gondowangi, sawangan. Jalan utama kampung terputus.
• Insya Allah prsiapan terus brjalan. Malam ini (30/3) panitia dan relawan besrta msyarakat desa paremono sdg kordinasi di lapangan.
• Bantuan yg dibthkan sdg diinventarisir. Bantuan uang via 136-000975146-9 Mandiri cabang semarang pahlawan.A.n kharis raharjo,S.E.
• Relawan daerah lain siap2 tunggu giliran. Mobilisasi awal relawan PKS Magelang dan kota2 sekitarnya.
• Di DPD PKS Magelang malam ini 50 relawan PKS sdg kordinasi. Jam 1 mlm nanti tmbhan relwan dtg dr solo.
• (Kamis 31/3) Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi.
*sumber: http://twitter.com/PKSjateng Baca Selengkapnya..
(Rabu 30/3/11) Banjir lahar dingin menjebol jembatan di jalur Jogja-Magelang. Akibatnya, setengah jembatan ambrol, sementara setengahnya miring. Polisi pun menutup jalan utama dua kota tersebut.
Banjir lahar dingin mulai pukul 17.45 WIB dan jembatan ambrol sekitar pukul 18.30 WIB karena arus air sangat kuat. Sebelum ambrol terdengar bunyi gemuruh air yang sangat besar. (detik.com)
PKS langsung bergerak membantu korban. Berikut liputan (news) singkat dari twit @PKSjateng:
• Banjir lahar trjang Mgl. Jembt Pabelan runtuh. Jalur utama Mgl-Ygy putus. Relawan PKS brsiaga.
• Warga Dsn Ngemplak, slh satu Dsn di Ds Paremono mulai ngungsi.
• Saat ini 93 KK mengungsi di balai muslimin, balai pertemuan yg akn djadikan tmpt Muskerwil DPW PKS Jateng.
• Balai muslimin letaknya kira2 1 km dr jmbatan pabelan yg runtuh. Warga yg ngungsi krn rumahnya trendam.
• Relawan PKS sdh mulai bersiaga di lokasi. Bsk pagi tambahan relawan dr kota2 sktr Magelang dikerahkan.
• 3 rumah hilang & 2 rusak di dsn gunung lemah ds gondowangi, sawangan. Jalan utama kampung terputus.
• Insya Allah prsiapan terus brjalan. Malam ini (30/3) panitia dan relawan besrta msyarakat desa paremono sdg kordinasi di lapangan.
• Bantuan yg dibthkan sdg diinventarisir. Bantuan uang via 136-000975146-9 Mandiri cabang semarang pahlawan.A.n kharis raharjo,S.E.
• Relawan daerah lain siap2 tunggu giliran. Mobilisasi awal relawan PKS Magelang dan kota2 sekitarnya.
• Di DPD PKS Magelang malam ini 50 relawan PKS sdg kordinasi. Jam 1 mlm nanti tmbhan relwan dtg dr solo.
• (Kamis 31/3) Pagi ini 100 relawan PKS dr karanganyar, klaten dan sragen dlm pjalanan mnuju lokasi bencana Merapi.
*sumber: http://twitter.com/PKSjateng Baca Selengkapnya..
31 Maret 2011
Tujuh Arahan Ustadz Hilmi Aminuddin
Situasi yang kita hadapi sekarang adalah mata rantai dari ujian-ujian dakwah sebelumnya. Adalah sunatullah bahwa akan ada terus rekayasa untuk mengkerdilkan dakwah. Namun yang penting adalah bagaimana kemampuan kita untuk membuktikan dengan kerja nyata.Kita sebagai dai dan daiyah diperintahkan oleh Allah SWT jika menghadapi sesuatu yang sulit, yang menghimpit, cepat kembali kepada Allah (fafirruu ilallah..). Kemudian selesaikan dengan mentadabburi konsep Allah. “Afala yatadabbarunal Qur’an am ‘ala quluubin aqfaluha.”
Dari tadabur ayat-ayat Allah ini, maka dalam menghadapi berbagai masalah, ancaman dan makar, maka kita harus memiliki bekalan-bekalan yakni:
(1) Atsbatu mauqifan (menjadi orang yang paling teguh pendirian/paling kokoh sikapnya)
• At-Tsabat (keteguhan) adalah tsamratus shabr (buah dari kesabaran).
• Famaa wahanuu lima ashobahum fii sabiilillahi waaa dhoufu wamastakanuu…
• “…mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah. Allah menyukai orang-orang yang sabar…” (3:146)
• Keteguhan itu membuat kita tenang, rasional, obyektif dan mendatangkan kepercayaan Allah untuk memberikan kemenangan kepada kita.
• Keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan kekerasan oleh karenanya perlu diimbangi dengan yang kedua.
(2) Arhabu shadran (paling berlapang dada)
• Bukan paling banyak mengelus dada.
• Silakan bicara tetapi silakan buktikan.
• Jika tidak ada lapang dada akan timbul kekakuan.
(3) A’maqu fikran (pemikiran yang mendalam)
• Mendalami apa yang terjadi.
• Jangan terlarut pada fenomena, tetapi lihatlah ada apa di balik fenomena tsb.
• Ketika kita merespon pun akan objektif.
• Respon-respon kita objektif, terukur, mutawazin (seimbang).
• Pemikiran yang mendalam kadang-kadang membuat kita terjebak pada hal yang sektoral, maka harus segera diimbangi pula dengan yang bekal keempat:
(4) Ausa’u nazharan (pandangan yang luas)
• Temuan sektoral perlu dicari.
(5) Ansyathu amalan (paling giat dalam bekerja)
• Sambil merespon sesuai dengan kebutuhan tetap kita harus giat bekerja.
• Orang-orang tertentu saja yang menangani, selebihnya harus terus bergerak dalam kerangka amal jamai. Energi kita harus prioritas untuk membangun negeri.
• Bekerja untuk Indonesia di segala sektor, struktur sampai tingkat desa, dan kader-kader yang mendapat amanah di pemerintahan. Fokuskan semua bekerja.
(6) Ashlabu tanzhiman (paling kokoh strukturnya)
• Kita jamaah manusia, ada kekurangan, ada kesalahan. Kita harus rajin membersihkannya. Seorang muslim ibarat orang yang tinggal di pinggir sungai dan mandi lima kali sehari. Jika sudah begitu, pertanyaannya: “Masih adakah daki-daki kita?”
• Allah berfirman “wa qul jaal haq wa zahaqal bathil”. Secara fitrah jika al Haq muncul, maka kebatilan akan lenyap, oleh karena itu teruslah hadirkan al Haq dan mobilisir potensi kebaikan. Jika kita lengah mendzohirkan al-haq maka kebatilan yang tadinya marjinal akan tampil dan al-haq terbengkalai.
• Hidup berjamaah adalah untuk memobilisir potensi-potensi kebaikan.
(7) Aktsaru naf’an (paling banyak manfaatnya)
• Khoirunnas anfa’uhum linnas.
• Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
• Buktikan bahwa jamaah ini banyak manfaatnya sehingga berhak mendatangkan pertolongan Allah dan pertolongan kaum Mukminin.
Jika tujuh hal itu dilakukan untuk menghadapi tantangan dan rekayasa, insya Allah dakwah ini akan semakin kokoh dan semakin diterima untuk menghadirkan kebajikan-kebajikan yang diharapkan oleh seluruh bangsa.
*Disampaikan dalam Acara DPW PKS Jabar di Lembang, 19 Maret 2011
Baca Selengkapnya..
30 Maret 2011
Ketika Badai Menghantam Perahu Kami...
Oleh Abdullah Haidir, Lc...
Berlayar mengarungi samudera, jangan berharap kau kan tiba di pulau tujuan tanpa cobaan mendera. Sebelum layar dibentangkan, inilah yang harus terpatri dalam diri menjadi kesadaran. Bahwa berbagai keindahan dari sebuah pelayaran panjang dan kenikmatan di pulau tujuan, berbanding lurus dengan besarnya tantangan yang menghadang.
Tak kan pernah kau dapatkan indahnya pemandangan angkasa menjulang di tengah samudera luas membentang, selagi kau masih takut menembus hempasan gelombang. Ini bukan sekedar resiko perjalanan, tapi tlah menjadi aksioma tak terbantahkan.
Di sini, di perahu ini, kita sedang merangkai keutuhan dan persaudaraan, kesetiaan dan keteguhan, apapun posisi dan kedudukan. Karena kita telah memiliki tujuan, harapan dan mimpi yang sama ingin diwujudkan. Namun, kita tidak pernah menafikan adanya kesalahan, kelalaian dan kekhilafan, bahkan juga kejenuhan, kekecewaan, kemarahan, hingga silang sengketa yang tak terhindarkan. Itu wajar belaka, karena memang tidak satu pun di antara kita yang mengaku tiada cela tiada dosa. Namun kesamaan tujuan, mimpi dan khayalan, kan segera menyatukan, meluruskan langkah ke depan, menghapus resah dan kemarahan, berganti semangat yang terbarukan. Karenanya, kita sambut gembira setiap arahan, nasehat dan pesan-pesan yang dapat menguatkan serta menyatukan, sekeras apapun. Tapi, fitnah yang memecah barisan, tuduhan yang memojokkan, umpatan dan celaan yang menjatuhkan, serta aib yang dibeberkan, apalagi tindakan melobangi perahu agar kandas atau tenggelam, tidak pernah dapat kami terima, baik secara logika apalagi perasaan. Bagaimanapun, kami bukan batu yang diam diketuk palu.
Di sini, di perahu ini, kita sedang menjadikan badai dan gelombang sebagai ujian kejujuran, sarana muhasabah untuk memperteguh perjuangan, juga sarana belajar menjaga komitmen atas kesepakatan yang tlah dinyatakan. Karenanya, alih-alih badai ini menceraiberaikan atau meluluhlantakkan, justeru dia menjadi moment paling tepat untuk semakin rekat, melupakan kesalahpahaman yang sempat menimbulkan sekat. Mereka di kejauhan, boleh jadi bersorak sorai kegirangan ketika kita terombang ambing di tengah gelombang, berharap satu persatu dari kita tenggelam menjemput ajal menjelang. Tapi tahukah mereka? Justeru saat ini kami rasakan kehangatan tangan saudara kami yang erat saling berpegangan, justeru saat ini kami rasakan kekhusyuan doa-doa untuk keselamatan dan persatuan, justeru saat ini kami semakin yakin bahwa seleksi kejujuran memang harus lewat ujian, justeru saat ini kami jadi dapat membedakan mana nasehat dan mana dendam kesumat, mana masukan bermanfaat dan mana makar jahat, mana senyum tulus persaudaraan dan mana senyum sinis permusuhan.
Di sini, di perahu ini, justeru di tengah badai gelombang, kita jadi semakin mengerti pentingnya nakhoda yang memimpin dan mengendalikan, juga semakin menyadari pentingnya syura untuk mengambil keputusan, lalu pentingnya belajar menerima keputusan setelah disyurakan. Adanya kepemimpinan dan syura memang memberatkan, karena proses jadi panjang, langkah-langkah jadi terhalang aturan, keinginan sering tertunda menunggu keputusan. Tapi ini tidak dapat kita hindari, karena kita tidak berlayar sendiri, bergerak sendiri, mengambil keputusan sendiri dan menanggung resiko sendiri. Justeru karena kita berlayar bersama, maka kepemimpinan dan syura mutlak harus ada. Kepemimpinan memang bukan nabi yang maksum dan mendapatkan legalitas wahyu dalam setiap kebijakan, kesalahanpun bukan sebuah kemustahilan meski tidak kita anggap kebenaran. Tapi kepemimpinan yang dibangun oleh syura, telah memenuhi syarat untuk disikapi penuh penghormatan dan ketaatan, sepanjang tidak ada ajakan kemaksiatan. Sebagian orang boleh jadi mengatakan ini sikap taklid buta, kita katakan, 'Inilah komitmen kita!' Sebagian lagi katanya merasa kasihan dengan anak buah yang tidak mengerti banyak persoalan dan hanya ikut ketentuan, kita katakan, 'Kasihanilah dirimu yang sering menghasut tanpa perasaan!'
Di sini, di perahu ini, ketika badai menghantam dari kiri dan kanan, depan dan belakang, teringat perkataan para shahabat dalam sebuah peperangan, tatkala musuh dari luar datang menyerang dan orang dekat menelikung dari belakang,
'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya' (QS. Al-Ahzab: 22)
Ibnu Katsir menjelaskan, "Maksudnya, inilah janji Allah dan Rasul-Nya berupa ujian dan cobaan, pertanda kian dekatnya kemenangan."
Riyadh, Rabiul Tsani 1432 H.
*Abdullah Haidir, Ketua Majelis Pertimbangan Wilayah (MPW) DPW PKS Arab Saudi
*posted: pkspiyungan.blogspot.com Baca Selengkapnya..
Menyerang Qiyadah Melumpuhkan Dakwah
Muhammad Abdullah Al Khatib*...
Wahai Ikhwan, karena dakwah kalian merupakan kekuatan besar melawan kedzoliman, maka wajar kalau mereka mengerahkan segala senjata dan kemampuan untuk menghadapi dakwah kalian, bahkan tidak ada satu pun cara kecuali mereka manfaatkan untuk memerangi dan memberangus dakwah kalian.
Cara paling berbahaya yang digunakan oleh musuh yang licik adalah upaya menimbulkan friksi internal di dalam dakwah, sehingga mereka dapat memenangkan pertarungan karena kekuatan dakwah melemah akibat terpecah belah. Dan hal yang paling efektif menimbulkan friksi internal dalam dakwah adalah hilangnya tsiqah antara prajurit dan pimpinan. Sebab bila prajurit sudah tidak memiliki sikap tsiqah pada pimpinannnya, maka makna ketaatan akan segera hilang dari jiwa mereka. Bila ketaatan sudah hilang, maka tidak mungkin ada eksistensi kepemimpinan dan karenanya pula tidak mungkin jamaah dapat eksis.
Oleh karena itulah, maka Imam Asy-Syahid menekankan rukun tsiqah dalam Risalah At-Ta'alim dan menjadikannya sebagai salah satu rukun bai'at. Imam Asy-Syahid juga menjelaskan urgensi rukun ini dalam menjaga soliditas dan kesatuan jamaah, ia mengatakan:
"...Tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Kadar tsiqah – yang timbal balik - antara pimpinan dan yang dipimpin menjadi penentu bagi sejauh mana kekuatan sistem jamaah, kemantapan langkah-langkahnya, keberhasilan dalam mewujudkan tujuan-tujuannya, dan kemampuannya dalam mengatasi berbagai tantangan dan kesulitan. "Ta'at dan mengucapkan perkataan yang baik adalah lebih baik bagi mereka" (QS 47:21). Dan tsiqah terhadap pimpinan merupakan segala-galanya bagi keberhasilan dakwah."
Kita tidak mensyaratkan bahwa yang berhak mendapat tsiqah kita adalah pemimpin yang berkapasitas sebagai orang yang paling kuat, paling bertakwa, paling mengerti, dan paling fasih dalam berbicara. Syarat seperti ini sangat sulit dipenuhi, bahkan hampir tidak terpenuhi sepeninggal Rasulullah saw. Cukuplah seorang pemimpin itu, seseorang yang dianggap mampu oleh saudara-saudaranya untuk memikui amanah (kepemimpinan) yang berat ini. Kemudian apabila ada seorang ikhwah (saudara) yang merasa bahwa dirinya atau mengetahui orang lain memiliki kemampuan dan bakat yang tidak dimiliki oleh pimpinannya, maka hendaklah ia mendermakan kemampuan dan bakat tersebut untuk dipergunakan oleh pimpinan, agar dapat membantu tugas-tugas kepemimpinannya bukan menjadi pesaing bagi pimpinan dan jamaahnya.
Saudaraku, mungkin anda masih ingat dialog yang terjadi antara Abu Bakar ra dan Umar ra sepeninggal Rasulullah saw.
Umar berkata kepada Abu Bakar, 'Ulurkanlah tanganmu, aku akan membai'atmu.'
Abu Bakar berkata, 'Akulah yang membai'atmu.'
Umar berkata, 'Kamu lebih utama dariku.'
Abu Bakar berkata, 'Kamu lebih kuat dariku.'
Setelah itu Umar ra berkata, 'Kekuatanku kupersembahkan untukmu karena keutamaanmu.'
Umar pun terbukti benar-benar menjadikan kekuatannya sebagai pendukung Abu Bakar sebagai kholifah.
Tatkala seseorang bertanya kepada Imam Asy-Syahid, 'Bagaimana bila suatu kondisi menghalangi kebersamaan anda dengan kami? Menurut anda siapakah orang yang akan kami angkat sebagai pemimpin kami?'
Imam Asy-Syahid menjawab, 'Wahai ikhwan, angkatlah menjadi pemimpin orang yang paling lemah di antara kalian. Kemudian dengarlah dan taatilah dia. Dengan (bantuan) kalian, ia akan menjadi orang yang paling kuat di antara kalian.’
‘Wahai Ikhwan, mungkin anda masih ingat perselisihan yang terjadi antara Abu Bakar dan Umar dalam menyikapi orang-orang yang tidak mau mengeluarkan zakat. Sebagian besar sahabat berpendapat seperti pendapat Umar, yaitu tidak memerangi mereka. Meski demikian tatkala Umar mengetahui bahwa Abu Bakar bersikeras untuk memerangi mereka, maka ia mengucapkan kata-katanya yang terkenal, yang menggambarkan ketsiqahan yang sempurna, 'Demi Allah, tiada lain yang aku pahami kecuali bahwa Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk memerangi mereka, maka aku tahu bahwa dialah yang benar.'
Andai Umar ra tidak memiliki ketsiqahan dan ketaatan yang sempurna, maka jiwanya akan dapat memperdayakannya, bahwa dialah pihak yang benar, apalagi ia telah mendengar Rasulullah saw bersabda, 'Allah swt telah menjadikan al haq (kebenaran) pada lisan dan hati Umar.'
Alangkah butuhnya kita pada sikap seperti Umar ra tersebut, saat terjadi perbedaan pendapat di antara kita, terutama untuk ukuran model kita yang tidak mendengar Rasululiah saw memberikan rekomendasi kepada salah seorang di antara kita, bahwa kebenaran itu pada lisan atau hatinya.
Mengingat sangat pentingnya ketsiqahan terhadap fikrah dan ketetapan pimpinan, maka musuh-musuh Islam berusaha sekuat tenaga untuk menimbulkan keragu-raguan pada Islam, jamaah, manhaj jamaah, dan pimpinannya. Betapa banyak serangan yang dilancarkan untuk melaksanakan misi tersebut.
Oleh karena itu, seorang akh jangan sampai terpengaruh oleh serangan-serangan tersebut. Ia harus yakin bahwa agamanya adalah agama yang haq yang diterima Allah swt. Ia harus yakin bahwa Islam adalah manhaj yang sempurna bagi seluruh urusan dalam kehidupan dunia maupun akhirat. Ia harus tetap tsiqah bahwa jamaahnya berada di jalan yang benar dan selalu memperhatikan Al Quran dan Sunah dalam setiap langkah dan sarananya. Ia harus tetap tsiqah bahwa pimpinannya selalu bercermin pada langkah Rasulullah saw serta para sahabatnya dan selalu tunduk kepada syariat Allah dalam menangani persoalan yang muncul saat beraktivitas serta selalu memperhatikan kemaslahatan dakwah.
Kami mengingatkan, bahwa terkadang sebagian surat kabar atau media massa lainnya mengutip pembicaraan atau pendapat yang dilakukan pada pimpinan jamaah, dengan tujuan untuk menimbulkan keragu-raguan, menggoncangkan kepercayaan, dan menciptakan ketidakstabilan di dalam tubuh jamaah. Oleh karena itu, seorang akh muslim tidak diperbolehkan menyimpulkan suatu hukum berdasarkan apa yang dibaca dalam media massa, tidak boleh melunturkan tsiqahnya, dan tidak boleh menyebarkannya atas dasar pembenaran. Ia harus melakukan tabayyun terlebih dahulu.
Allah swt menegur segolongan orang yang melakukan kesalahan dengan firman-Nya,
“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka serta merta menyiarkannya. Dan kalau mereka menyerahkannya kepada Rasul dan ulil Amri di antara mereka, tentulah orang-orang yang ingin mengetahui kebenarannya (akan dapat) mengetahuinya dari mereka (Rasul dan ulil Amri). Kalau tidaklah karena karunia dan rahmat Allah kepada kamu, tentulah kamu mengikut syaitan, kecuali sebahagian kecil saja di antaramu.” (QS 4:83).
*Dikutip dari Kitab Nadzharat Fii Risalah at-Ta'alim (Bab Ats-Tsiqoh) terbitan Asy-Syaamil. Baca Selengkapnya..
30 Januari 2011
PENGURUS DPRa PKS KARANGASEM
TAHUN 2011-2013
KETUA
SEKRETARIS BENDAHARA
M. Fadkul Achmadi, S. Pd.I Tri Wahyu Yunianto, ST
Langganan:
Postingan (Atom)



